Ahad, 14 Mac 2010

PUISI TRADISIONAL 2000 UNTUK SIMPANAN

Syair Nuzulul Quran

Ya Salam, tujuh belas Ramadhan menjelang tiba,
pada tangisan Rasul-Mu tercinta,
mengharap cinta-Mu di puncak Gua Hira,
tadahkan tangan bisikkan kasih diiring isak cucuran air mata,
tubuh suci gementar tatkala bergema firman agung,
dalam keterbatasan akal manusiawi menjadi bingung,
terkelu dalam ketidaktahuan huruf namun beruntung,
jadi pembawa firman Ilahi beratnya melebihi gunung.

Firman suci telah disampaikan ke pundak nabi,
sungguh berat amanah diemban sebagai misi,
mengajak manusia lalai ke jalan Robbul Izzati,
agar kehidupan makhluk pilihan kembali diberkati,
firman agung kewajiban membaca,
agar memahami penciptaan semesta,
sedar hakikat hidup fana,
jauhi jalan iblis dan pengikut durjana.

Ribuan tahun sejarah peradaban berisi pilihan,
dua golongan terbentuk menyikapi firman Tuhan,
mengingkari menempuh jalan keingkaran,
dan larut dalam perilaku penuh keingkaran,
firman pertama dinyatakan hakikat insan,
dicipta di bumi mengemban amanah kekhalifahan,
taat ingkar diberi kebebasan,
dan konsekwensi pasti sebuah pilihan,
ribuan tahun firman suci terjaga dalam keaslian,
jutaan manusia tetap bahagia dalam iman,
rindukan keampunan dan balasan syurga Tuhan,
kelak diberi dalam kehidupan akhirat penuh keabadian.

Yang ingkar tersedia neraka membakar,
di dunia banyak kemudahan dan terjauh dari sukar,
terlena dalam hidup penuh makar,
kelak jahanam semua ditukar,
firman agung-Mu penuntun jutaan hamba,
yang merindukan keampunan dan pemberian cinta,
yang lalui malamnya dengan cucuran air mata,
yang selalu takut terjauh dari kasih sayang dan redha,
tuntunan suci tetap terjaga sampai akhir zaman,
menjadi sumber inspirasi mereka beriman,
kelak akan ada syurga di dalam taman,
dan abadi dalam nikmat dan rasa nyaman.

ii

Ya Rahim,
tujuh belas Ramadhan seribu empat ratus tiga puluh tiga tahun silam,
gementar seluruh penghuni langit dan bumi kala menyambut datangnya kalam,
seorang hamba-Mu yang bertafakkur di gunung sunyi hanya mampu terdiam,
menerima firman suci untuk menuntun kehidupan yang diredhai dan tenteram.

Betapa beratnya amanah yang engkau embankan di pundak lelaki pilihan itu,
baginda ketakutan, merasa sendiri, tak sanggup dan menangis tergugu,
tiada pembela dan tempat berpaut bagi seorang putera yatim piatu,
yang harus berhadapan dengan kuatnya kebongkakan membatu.

Baginda muncul emban misi sebarkan firman suci di alam raya,
membawa kembali ke jalan-Mu mereka yang terperdaya,
sedarkan umat akan tidak abadinya kesenangan dunia,
dan membawa mereka merindukan indahnya syurga.

Firman-Mu yang agung hancurkan peradaban syaitan,
segala kekuatan dan kesombongan akal dihancurkan,
menata kehidupan dunia mencipta sebuah peradaban,
dan cinta pada-Mu yang menjadi inti segala kekuatan.

Dari lidahnya yang suci, terucap firman serukan umat manusia,
perintah agungnya telah getarkan seluruh padang pasir Arabia,
didikan qurani di madrasahnya telah lahirkan para mujahid perkasa,
putera gurun sederhana itu hancurkan kebongkakan Romawi dan Persia.

Lebih tujuh ratus tahun peradaban bersendi firman Ilahi terangi segala penjuru,
di segala penjuru bumi tinggalan arkitektur dan sains menjadi saksi bisu,
segala akal dan pengetahuan dibaktikan pada agama Ilahi yang satu,
sebelum datang masa gelap dan moral jahiliyah seperti dahulu.

Kini, peradaban bersendi qurani dilemahkan tentera syaitan,
para pencinta-Mu menjadi asing dan seolah-olah terpinggirkan,
sebahagian masih berjuang usaha sebuah kebangkitan,
yang telah Engkau janjikan akan tiba akhir zaman.

Di segala penjuru, para pejuang-Mu hadapi kezaliman,
segala pintu ditutup rapat dan diisolasi bak buasnya haiwan,
walaupun sedikit mereka dianggap hebat dan menakutkan,
kerana yang mereka cari hanya kejayaan dan redha Tuhan.

Seribu empat ratus tahun berlalu, firman-Mu akan kembali jaya,
pada hari ini para pemuda yang sedar telah lakukan berbagai usaha,
untuk kembalikan peradaban Ilahiyah di muka bumi agar bercahaya,
dengan keseimbangan material dan rohani kehidupan akan bahagia.

Ya Rahman,
kerinduan akan bersihnya bumi sebagaimana dahulu kiat kuat,
dengan redha-Mu, generasi Qurani berjuang di bawah lindungan malaikat,
kejayaan nescaya akan datang sekali lagi sebelum datangnya hari kiamat,
dan kebenaran-Mu akan menyelamatkan umat manusia dunia akhirat.



Hidup Menggarap Hikmah

i

Moga akhir Ramadhan ini tak ada badai yang akan menyapu kerinduan,
kasih abadi kan terukir bak cinta Qais pada Laila di tengah sepinya gurun,
harapanku, harumnya bunga ini akan taburkan bibit ke penjuru bumi,
terbang bersama angin dan kelak tumbuh di tanah baru yang subur.

Kelak ketika cahaya bulan pucat sinari bibit baru yang tumbuh,
dan bianglala pagi berikan tenaga padanya untuk menatap dunia,
seekor burung kecil akan berkicau riang kerana ada harapan,
tempat berhenti kala nafas tak sanggup teruskan perlangkahan.

ii

Ada hari yang datang dan pergi dengan segala peristiwa,
embun pagi menghilang dan esok kembali membawa sejuk,
seribu tahun, seribu peristiwa berlalu dalam putaran waktu,
dan manusia datang dan pergi bak butir debu di semesta raya.

Ya Allah, izinkan hamba untuk sejenak melepaskan kepenatan duniawi,
jasad ini telah begitu ringkih dalam pusaran purnama lima ratus bulan,
izinkan sejenak hamba pejamkan mata untuk mengingati sunyinya kubur,
agar tertahan segenap duka dan goresan sebelas bulan hilangnya masa.

iii

Kini mayang telah berada di tengah jelang masa jadi dedaun yang runtuh,
nafasku telah berada di tepian waktu dekati gelapnya tanah hitam,
kembali ke rumah tanpa jendela dan dinding pulalam yang indah,
kecuali bertemankan cacing dan suara cengkerik sambut purnama.

Ya Allah, hamba akan layu dan tunas baru akan tumbuh,
tidur nan abadi jelang datang dan tiada lagi namaku,
akan hilang segala lelah menatap semua peristiwa,
bak helang gurun tercabut sayap dan musnah.

iv

Tertinggal di belakangku sebuah generasi baru,
bak tumbuhnya pohon di bekas pohon tumbang,
kelak, akan bersinergi dengan kicau burung-burung,
menatap dinamika harmoni takdir yang harus dijalani.

Ya Allah, telah kuhirup hikmah di sebalik banyak peristiwa,
hanya permainan badai yang datang dan pergi dalam sunyi,
ada tawa, pekik, kegembiran, dan air mata sebagai pelengkap,
dan akhirnya kembali dalam harumnya bau tanah disapu embun.

Nazam Rindu Ibu

Rindu 1

Ibu,

Tahun-tahun kehidupan kita akan segera berganti,
namun kenangan indah yang membekas dalam jiwa tetap abadi,
tatapan nan lembut penuh kasih sayang darimu tetap warnai hari-hari,
sebuah keindahan tiada tara yang kelak akan kubawa sampai ke mati.

Di kerentaan usia yang semakin sepuh langkahmu mulai gemetar dan tertatih,
rambutmu yang dulu begitu hitam kini telah dipenuhi uban memutih,
suara lembutmu yang begitu kurindukan kini semakin lirih,
dan sering kudengar nafasmu telah mulai melirih jerih.

Dalam tidur nyenyakmu kadang-kadang kudengar sedan,
maafkan anakmu kalau kadang-kadang masih hampirkan kesedihan,
daku tak tahu keperihan apa yang begitu rapi engkau sembunyikan,
yang tak pernah kau ungkap pada anakmu sehingga nyawa berpisah badan.

Maafkan daku kalau tak tahu bagaimana cara untuk membuatmu bahagia,
maafkan daku kerana tanpa sengaja salah dalam berkata-kata,
maafkan daku tak mampu sembunyikan kepedihan di mata,
sebagai jendelamu untuk tahu anakmu berdusta.

Dalam rentang tahun tatkala daku makin tua,
betapa kusedari banyaknya hal yang harus ditahan dalam dada,
betapa kesepian dan kesendirian hidup harus dijalani oleh setiap jiwa,
sampai kelak setiap insan harus menghadap-Nya kembali ke alam baqa.

Tahun-tahun kehidupan yang kulalui mulai menuju ke masa senja,
betapa sering kurasakan goresan bagaikan duri tajam di dalam dada,
membuatku teringat padamu sewaktu dalam diam keluar air mata,
dan sesenggukan dalam kesendirian sebagai manusia.

Maafkan anakmu yang kurang berbakti masa tua,
beban hidup yang kulalui membuat diri sibuk dengan dunia,
kewajibanku membuat anakmu siang dan malam harus bekerja,
kerana tanggungjawab yang dibebankan pada anakmu sebagai ketua keluarga.

Di senja usiamu, tetap kumintakan tanganmu tertadah dalam doa,
agar anakmu diberi Allah keselamatan akhirat dan dunia,
dianugerahkan-Nya jalan kebaikan orang-orang yang mulia,
serta menghadap-Nya sebagai hamba yang tidak berdoa.

Rindu 2

Ibu,

Sekarang ini bulan puasa hampir tiba,
terkenang daku masa kecil yang sangat bahagia,
dengan mata mengantuk pujuk rayumu lembut menyapa,
bangunkan anak-anakmu agar dari kecil belajar berpuasa.

Teringat daku merengek kehausan kerana letih bersama rakan,
senyum lembutmu membuat rasa ingin menogok minuman,
disertai kisah tentang pahala yang diberikan,
jadilah lapar haus hingga petang bertahan.

Ramadhan telah datang menghampiri,
titip rindu buat ayah di dalam kubur yang sunyi,
sampaikan padanya pesan ayah terpateri di hati,
dan akan aku pelihara hingga kelak fana jasad ini.

Ramadhan yang kesekian kali kita tidak bersama,
sejak daku pergi merantau jauh tinggalkan rumah,
bagaikan anak helang yang terbang ke angkasa,
tak pernah kembali semula ke sarang induknya.

Kala rindu, kupandang cakerawala nan bisu,
air mata menitis bayangkan masa-masa kecilku,
jalani hari-hari dalam kesendirian jiwa sejak dahulu,
sebagai anak laki-laki terlalu lembut seperti katamu.

Walau separuh jalan hidup yang panjang telah kulalui,
kata-kata dari mulutmu tak pernah kubuang dari hati,
bekal jalani hidup sebagai seorang anak lelaki,
dan yang membuat langkahku selalu berani.

Anakmu tahu betapa terjal jalan di depan,
jauh langkah yang harus ditempuh di perjalanan,
beratnya hidup yang dijalani dalam menanggung beban,
seorang ayah kerja kerasnya amat dimuliakan.

Dalam usia mulai senja masa kehidupan di dunia,
bermohon anakmu doa dan keredhaan dari ibunda,
agar jalanku dalam kasih dan bimbingan Allah Taala,
hingga kelak menghadap-Nya di alam baqa.

Rindu 3

Ibu,

Sebentar lagi lebaran Idhul Adha hampir tiba,
teringat masa kecilku sewaktu datang merengek manja,
tanyakan baju baru untuk pergi silaturahmi ke rumah tetangga,
serta pergi jalan-jalan dengan rakan diselingi tawa dan canda.

Tatkala malam pergi ke masjid dengan rakan-rakan,
mikrofon dan pemukul beduk selalu jadi bahan rebutan,
rasanya begitu bangga mendengar irama pukulan,
sungguh masa kecil yang amat membahagiakan.

Menitis deras air mataku kala teringat,
kala lebaran kau pakai baju yang telah lama dibuat,
demi bahagia anakmu berbaju baru pun ibu tak sempat,
sungguh perjuangan yang berhiaskan tangisan dan keringat.

Tiada duka dan kesedihan di wajah teduhmu yang terpancar,
tetapi sorotan mata tulusmu tak mungkin menghindar,
dan beningnya air mata kelopak mata yang tergetar,
kala ziarahi ayah yang tak iringi kami hingga besar.

Lebaran Idhul Adha tahun ini kita tak bersama,
tetapi untuk selalu aku panjatkan untaian doa,
agar ibu diberi usia panjang dan kesihatan yang prima,
dan selalu berada dalam kehidupan penuh iman dan takwa.

Maafkan anakmu yang kadang-kadang lalai dalam kasih sayang,
dalam jiwa terdalamku wajah ibu tak pernah hilang,
ibu selalu ada dan setiap waktu terbayang,
di tengah sepinya malam ataupun siang.

Teringat kala takbir berkumandang,
menangis aku kala mengenang masa yang hilang,
bersamamu jalani hari-hari dari masa kecil yang panjang,
sehingga anakmu hadapi cabaran hidup yang luas terbentang.

Maafkan daku selama ada waktu untuk ucapkan kata itu,
ikhlaskan segenap perjuanganmu menjaga hidupku,
berikan doa dan restu agar selalu lurus jalanku,
moga kelak di dalam redha-Nya kita bersatu.

Rindu 4

Ibu,

Malam ini telah begitu larut,
bintang-bintang berkilau indah bak mutiara jabarrut,
entah mengapa tiba-tiba saja terlintas rasa gelisah dan takut,
kalau kelak tak sempat bersimpuh di depanmu kalau datang malaikat maut.

Dalam kesendirian dan sepi kurasakan indahnya masa waktu kita bersama,
kesederhanaan dan ketulusanmu begitu membekas dalam jiwa,
kutemui kasih selalu terpancar di pandangan mata,
yang menguatkan jiwaku sewaktu menderita.

Tetapi ibu, sebahagian jiwaku mengikuti ibu,
mampu menyimpan begitu dalam rasa sakit dan pilu,
walau jasad sedikit demi sedikit lemah bak disayat sembilu,
namun nampak biasa dimakan oleh perstiwa dan fananya waktu.

Dalam jiwa ini tetap terpendam kerinduan yang begitu dalam,
untuk pergi bersamamu menangis di tanah haram,
lantunkan doa pada Ilahi penguasa alam,
agar kasihmu bernilai bak mutu manikam.

Anakmu begitu lelah jalani semua ini,
tak ada lagi sisi kehidupan dunia yang ingin kutangisi,
akan kujalani hidup dengan tegakkan prinsip dan jati diri,
walau untuk itu semua prinsip itu harus kubawa sampai mati.

Kekadang sewaktu berjumpa ingin kusampaikan semua keluh kesah,
namun tak ingin aku membuat batinmu kembali lelah,
tak ingin mulutku berkata membuatmu gelisah,
biarlah semua bagimu baik dan indah.

Maafkan anakmu yang banyak diam,
kutahan gejolak jiwa ini walau dalam remuk redam,
biarlah nampak olehmu apa yang kujalani semuanya tenteram,
bagai samudera di permukaannya rata namun bergolak di dalam.

Di sisa usia ini, hanya doa dan keredhaanmu yang kupinta,
tak ingin lagi aku melihatmu cucurkan air mata,
tak ingin lagi anakmu melihat ibu menderita,
sehingga ibu menghadap Allah maha pencipta.

Rindu 5

Ibu,

Titisan embun di dedaunan membawa ingatanku kembali ke masa silam,
betapa sering rengekan manjaku membangunkanmu di tengah malam,
dalam letih langkahmu ditemani cahaya lampu yang suram,
dan barulah ibu tertidur sewaktu anakmu telah terdiam.

Menjelang tujuh puluh tahun waktu telah berlalu,
bagaikan kilat tanpa terasa masa yang telah tersapu,
kini, ketuaan telah membayang di wajahmu yang sendu,
dan kelak perjalanan anakmu pun akan menjadi seperti itu.

Aku ingin seperti ibu, yang tenang bagai permukaan telaga,
jalani kehidupan yang sederhana, sabar dan bersahaja,
tak pernah terdengar keluh dan sedih dalam tiada,
dan pandai menahan keperihan di dalam dada.

Malam ini anakmu titiskan air mata,
teringat masa yang hilang sewaktu kita bersama,
bersamamu dibakar terik matahari pergi berhuma,
mencari tambahan untuk menyambung hari-hari kita.

Kini, tak lagi anakmu harus berbahagi ikan masin dengan saudara,
tak lagi terdengar pujukanmu untuk makan apa adanya,
namun keteladanmu terhunjam untuk hidup bersahaja,
dan tak membanggakan diri dengan pemberian-Nya.

Kelembutan jiwa yang kau ajarkan begitu membekas,
terhadap orang lain engkau tanamkan sifat yang ikhlas,
tidak mengungkit pemberian atau mengharap balas,
serta mengikhlaskan kebaikan bak air di daun talas.

Kini ketuaan kian jelas dalam kerut matamu,
jalanmu pun mulai tertatih tak lagi kuat seperti dahulu,
namun cinta kasihmu tetap abadi seperti masa yang lalu,
bagai hentaman ombak sejak zaman purba di pantai nan bisu.

Kalau kelak anakmu pergi lebih dahulu menghadap-Nya,
mohon ikhlaskan segenap pengorbananmu sepanjang usia,
maafkan anakmu tak mampu hingga akhir memelihara,
semoga kelak kita bertemu dalam redha dan syurga-Nya.

Rindu 6

Ibu

Ingin kuadukan padamu tentang beban yang sesakkan jiwa,
ingin kuadukan semua letihku jalani hidup jelang masa tua,
ingin kudatang padamu mencari kesejukan teduhnya mata,
sungguh nasihat tulusmu jadi ubat hati yang menderita.

Dalam rapuhnya ketegaran jiwa anakmu ingin pulang,
mencari kekuatan cahaya matamu yang penuh kasih sayang,
memacu semangat hidup dan membuat kuat tulang-tulang,
di dalam jiwamu tersimpan cinta yang tak pernah hilang.

Kurindukan cintamu yang sanggup belah ganasnya samudera,
kurindukan doa mustajabmu yang bak kilat membelah udara,
kuteladani hidupmu yang demikian tegar hadapi sengsara,
kukagumi hangatnya jiwamu yang lebihi panasnya bara.

Dalam kerinduan padamu sering aku tersedu,
teringat keindahan kala bersama masa lalu,
rindukan tembang teduhmu di tengah dalu,
sungguh, engkaulah mutiara hidupku.

Dalam kesendirian sering daku teringat,
betapa kini matamu telah rabun melihat,
tetapi jiwa tulusmu begitu tegar dan kuat,
cinta kasih pada anak-anakmu begitu terpahat.

Kau ajarkan ketulusan melalui kesederhanaan,
tentang indahnya mendidik anak melalui keteladanan,
selalu menjaga diri dengan satunya kata dan perbuatan,
dan bekerja keras diiringi tawakkal kepada takdir Tuhan.

Hari ini kesedaran akan wajibnya baktiku makin terbuka,
betapa mulia kasih seorang ibu yang dilandasi rasa ikhlasnya,
tanpa pamrih ia besarkan anak-anaknya sampai dewasa,
sungguh sebuah tugas kehidupan yang begitu luar biasa.

Dalam lelahnya jalani hidup betapa sering aku merindukanmu,
ingin kudengar lagi nasihat-nasihat sederhana darimu,
mencari pautan erat dalam samudera pandangan kasihmu,
dan berharap kelak bersama dalam kasih Ilahi kita bertemu.

Rindu 7

Ibu,

Malam telah semakin larut dekati waktu pertengahan,
mengapa air mata ini tak mampu jua untuk kutahan,
kuratetapi kepedihan jiwaku dalam kepiluan,
bak pahlawan yang hancur dalam kekalahan.

Anakmu hilang semangat yang mewaja,
tak mampu tegakkan kepala seorang kesateria,
kerja keras sepanjang waktu seolah tiada berguna,
dan semua yang kubina menjadi hambar dan hampa.

Maafkan atas jiwa kanak-kanakku yang begitu rapuh,
betapa ingin mengadu padamu sambil bersimpuh,
sampaikan segenap lelah hidup memeras peluh,
untuk permata jiwaku yang sedang tumbuh.

Tetapi ibu, mengapa anakmu tak boleh percaya,
atas ungkapan dan kefasihan menyusun kata,
kerana mata batin dan ketajaman hatiku berkata,
bahawa dalam kalimat masih banyak tersimpan dusta.

Maafkan anakmu kalau harus pergi dan menyerah,
dalam hidup ini diriku tak sekuat dan setegar ayah,
jasadku sekarang begitu ringkih dan mudah lelah,
hadapi gempuran yang buat ketegaranku kalah.

Maafkan anakmu tak sanggup emban amanah ini,
kerana tahu segala yang terjadi petang dan pagi,
namun kusembunyikan dalam pedihnya relung hati,
dan menjadi luka yang kelak akan kubawa sampai mati.

Maafkan anakmu yang tak sanggup beri kebahagiaan,
apabila daku harus pergi dengan membawa kekalahan,
merintis jalan baru untuk jalani takdir kehidupan,
dan berharap di dalamnya ada kebahagiaan.

Tahanlah air matamu atas takdir yang kujalani,
walau di usia telah senja semuanya harus kumulai,
semoga di dalam kepayahan ada kebahagiaan dari Ilahi,
atau biarlah semua berakhir tatkala kelak datangnya mati.


Syair 3

Dalam euforia kemenangan akhir zaman maharaja iblis pun bersabda,
Wahai tenteraku yang setia serta jutaan hamba dari kalangan manusia,
Kemenanganku dan kalian atas adam dan hawa sudah di depan mata,
Kerana hampir semua manusia bumi tidak lagi beriman secara kaffah.

Ingatlah selalu wahai tentera handalanku dalam mencabar firman Ilahi,
Jadikan indah dalam pandangan manusia segala pemenuh hasrat birahi,
Jadikan mereka yakin segala kejayaan kerana usaha dirinya sendiri,
Bukan kerana pemberian, kekuatan serta kuasa Allah yang maha suci.

Sang maharaja kembali berlaung: “Tenteraku! Apakah kalian mendengar?”
Serentak menggemuruh jawaban: Iya rajaku! Yang hingar bingar,
Aku kami lumatkan keyakinan mereka supaya imannya tak tegar,
Dan prinsipnya mudah tercabik bagai lembutnya agar-agar.

Sang maharaja teruskan: Para tenteraku yang gagah berani,
Tetaplah berpegang pada tiga prinsip dasar sejak zaman kiwari,
Hancurkan iman manusia dengan penyesatan dan menakuti,
Dan jangan sampai mereka kaffah jalankan perintah dari Ilahi.

Kusegarkan kembali ingatanmu tentang prinsip yang pertama,
Lemahkan imannya dengan tidak beragama secara kaffah,
Doa, zikir, dan keimanannya cukup sebatas sejadah,
Sedang di luar itu agama tinggal kenangan saja.

Dengan begitu kesolehan hanya sewaktu sembahyang,
Selepas itu pergi mencari harta tanpa berpantang,
Tidak peduli apakah milik sendiri atau milik orang,
Sungguh prinsip yang setaraf dengan binatang.

Dengan adanya kekosongan mengingat Tuhan,
Kalian seret ia perlahan-lahan ke jalan kesesatan,
Bermula jijik dengan kotoran lantas mulai dibiasakan,
Maka mulailah iman dalam dadanya berjaya diredupkan.

Selepas itu mulai strategimu dengan menanamkan rasa takut,
Takut anak isterinya tidak terjamin pemenuhan keperluan perut,
Takut akan terkucil kerana dengan ajakan maksiat tidak menurut,
Sehingga apa pun ajakan tak peduli halal dan haram akan ikut.

Takut pula tunjukkan jati diri keimanan di tengah para pembenci Tuhan,
Kerana dengan memegang agama bimbang tidak dapat bahagian,
Apa saja yang benar dan baik tentu akan disembunyikan,
Atau waktu pimpinan mereka senang baru ditampakkan.

Wahai tentera abadiku, apakah prinsip ini kalian sudah mengerti!
Gemuruh suara mengiayakan dan resapkan sabda raja iblis dalam hati,
Tenteraku, takuti mereka dengan ancaman musuh dan kemiskinan materi,
Buatlah hati dan fikiran mereka memikirkan usaha tumpuk harta petang dan pagi,
Terhadap harta yang banyak tanamkan sifat kemaruk agar mereka terus mencari lagi.

Tanamkan juga rasa takut pada anak isteri dan keluarga mereka,
Serta buatlah rasa iri terhadap kelebihan yang dimiliki tetangga,
Membuat mereka akan berlumba pamerkan emas, intan permata,
Serta takabbur dalam bicara dan pujian yang mengandungi dusta.

Sekarang kusegarkan kembali ingatanmu tentang prinsip yang kedua, yakni penyesatan,
Masukilah satu titik keimanannya yang akan membuat landasannya berantakan,
Yakni keyakinan mereka akan hidup mati dan rezeki di tangan Tuhan,
Dan tiada kekuatan yang lebih tinggi melainkan ke-Ilahi-an.

Kalau kalian sudah berjaya lemahkan prinsip yang ini,
Itu bermakna kalian telah robohkan iman pada Ilahi,
Dan terbentuk jiwa syirik yang Tuhan sangat benci,
Maka ibadahnya pasti akan tertolak sepanjang hari.

Tenteraku, jangan cuma sebatas membuat mereka ragu,
Suruhlah hambaku dari kalangan manusia ciptakan ilmu baru,
Dampingi para peramal nasib dan dukun agar nampak jitu,
Supaya antara kesyirikan dan kemaksiatan bersatu padu.

Dampingi para hamba pakar sebar ilmu sesat kabalah,
Ataupun ramalan zodiak yang benar seolah-olah,
Ninibobokkan jiwanya yang rapuh dengan jalan salah,
Supaya cahaya keimanan makin redup dalam walah.

Tenteraku, yang ketiga adalah kaedah halus yang ingin kupertajam,
Yakni dengan menanamkan rasa was-was akan masa depan,
Sehingga mereka yakin bekerja harus dengan sogokan,
Dan tanpa rasuah mereka tentu tidak boleh makan.

Juga tanamkan angan-angan kosong pada mereka,
Bahawa kebahagiaan hanya didapati bila bergelumang harta,
Mencari ketenangan dan kedamaian dengan keluar berwisata,
Sehingga tanpa sedar mereka tertipu sehingga kelak menutup mata.

Sang maharaja iblis meneruskan orasinya dengan semangat berapi-api,
Jangan pula lupa tanamkan mimpi-mimpi pada para muda-Mudi,
Tanpa kekasih mereka tak akan dapat suami atau isteri,
Yang tentunya berakhir dengan penyesalan pasti.

Rancanglah tempat-tempat penyokong bagi mereka,
Seperti panggung wayang dan tempat wisata,
Buatlah filem-filem untuk mereka belajar cara bercinta,
Serta tipulah mereka dengan segudang cita-cita.

Berkoordinasilah kalian dengan hambaku di bidang pakaian,
Supaya aurat dan yang harus ditutup boleh ditonjolkan,
Membuat para pemuda lemah kerana fikirannya penuh kemaksiatan,
Dan tentu mereka akan menjadi makanan kalian yang berpengalaman.

Pasukan yang khusus kutugaskan merosakkan rumah tangga!
Sudahkah kalian tanamkan rasa tidak percaya dan hubungan penuh prasangka,
Sehingga antara suami isteri selalu curiga dan dipenuhi hubungan berlumur dusta,
Sehingga hidup bersama rukun di mata orang tinggal hanya sandiwara.

Harus kalian bekerja keras tanamkan kecemburuan berlebihan,
Supaya di dalam rumah sering terjadi perselisihan dan pertengkaran,
Hubungan anak dan orang tua dipenuhi kepura-puraan,
Dan ikatan suami isteri berakhir dengan perceraian.

Sang raja iblis penuh semangat teruskan orasi,
Untuk memberikan arahan dan indoktrinisasi,
Supaya pasukannya selalu kuat bermental besi,
Untuk sesatkan manusia sepanjang generasi.

Ia menoleh ke kumpulan syaitan hotel berbintang,
Hai tenteraku: Sudahkah kaedah kalian berkembang?
Bisikkan tipuan pada mereka bukan suami isteri yang datang,
Habiskan waktu untuk umbar syahwat baik pagi mahupun petang.

Lakukan diversifikasi dari fungsinya sebagai pusat niaga lendir,
Buatlah para penyanyi yang mendayu-dayu untuk hadir,
Tebarkan harumnya aroma minuman keras atau bir,
Supaya rutin mereka datang tanpa berfikir.

Syair 4

Tiba-tiba para tentera syaitan yang sedang riuh terdiam,
Terdengar suara maharaja iblis berdentam bagaikan godam,
Wahai tentera dilaknat, mari tingkatkan pembalasan dendam,
Kerana manusia kita selamanya disingkirkan sebagai khalifah di alam.

Sekarang, kuminta tentera setiaku penggoda syahwat untuk bicara,
Pemimpin menjawab: maharaja; “Kini kami banyak menganggur saja!
Ternyata hamba-hambamu dari golongan manusia sudah makin pintar dan berjaya,
Tanpa perlu diajari mereka mendedahkan tubuh untuk semua diperdaya.

Tuan maharaja iblis: Mulai dari alis, bulu mata, bibir, pipi, kulit wajah semua sudah kami tipu,
Mereka belanjakan banyak wang untuk memanipulasi bahagian-bahagian yang kami sebutkan itu,
Dengan polesan bahan kimia beracun berbahaya di wajah mereka merasa bak seorang ratu,
Padahal semua hanyalah lapisan di kulit yang menunjukkan kecantikan dan keindahan palsu.

Apalagi mereka yang takut menjadi tua keriput serta tidak menarik lagi untuk dipandang,
Kami arahkan hambamu dari kalangan ilmuwan untuk ciptakan ubat penghadang,
Atau kulit mereka disayat dan dijahit lagi supaya kelihatan masih tegang,
Sungguh otak mereka bodoh sekali lebih dari otak udang.

Belum lagi alat-alat pemacu birahi yang telah diciptakan hamba-hamba setiamu maharaja,
Dari filem, alat bantu, majalah, buku, dan segala sarana yang boleh digunakan dari apa saja,
Termasuk hukum-hukum pun dibuat untuk jadikan orang berpoligami hal yang hina,
Sedangkan pelacuran dan hubungan bebas seperti haiwan dianggap hal yang biasa.

Tuanku, sebagai bukti kami bawa jutaan janin yang ditarik dengan besi,
Para doktor hambamu menganggap janin bukanlah bakal seorang bayi,
Tanpa merasa bersalah jasad bernyawa disepit dan dipotong tanpa hati,
Sungguh kami telah Berjaya membentuk hubungan syahwat yang keji.

Tepuk tangan pun gemuruh membahana dari segala penjuru,
Kerana kebebasan seks di tengah umat adalah prestasi baru,
Maharaja iblis pun semakin bangga dan merasa terharu,
Atas prestasi hebat anak buahnya yang layak untuk ditiru.

Raja iblis bertanya: Apalagi yang telah kalian lakukan?
Pemimpin kumpulan menjawab: Itu baru sebahagian tuan?
Kami juga banyak bergiat merancang pakaian,
Agar rancangan dibuat semakin tampakkan semua tonjolan.

Selain itu, hambamu dari kalangan penyair ciptakan lagu-lagu pembangkit birahi,
Yang membuat mereka bergoyang dalam khayal dan mimpi hingga pagi,
Bahkan regu penggoda kami tambah dengan ekstasi,
Sehingga tinggal jasad hidup dengan hati yang mati.

Belumlah lagi filem-filem yang kami buat dengan pembohongan,
Lantaran bebasnya anak kecil pun sudah jadikan itu tontonan,
Dan hubungan biologi hanya ditujukan untuk kesenangan,
Tidak lagi sakral seperti yang diperintahkan dalam tuntunan.

Wajah maharaja iblis pun menyeringai puas,
Mata tuanya mencorong tajam ke tengah majlis yang luas,
Pandangannya lantas menyapu ke satu sudut bahagian atas,
Ia lambaikan tangan agar mereka bersuara keras.

Pemimpin kumpulan pun lantas maju memperkenalkan diri,
Aku pemimpin bagi mereka yang hidup dalam buaian mimpi,
Yang bekerja siang dan malam ciptakan sarana pemuas diri,
Agar hidup selalu terlena dan lupa akan datangnya mati.

Ia berkata: Sengaja kami tunjukkan pada hamba-hambamu zat penipu otak,
Yang membuat saraf termanipulasi oleh bumbu sedap menyentak,
Padahal dicampur lemak babi yang membuat doa mereka tertolak,
Dan terkena kanser yang membuat kepala mereka botak.

Sistem sosial pembuat penyokong pun kami cipta,
Supaya mereka bangga kalau memakan yang segera,
Maka jadilah tempat-tempat makan dan minum penuh aroma,
Dan diceritakan ke mana-mana sebagai bahan tunjuk bangga.

Takala mereka sakit dan pergi berubat,
Kami tanamkan keyakinan doktorlah yang membuat sihat,
Bukan berkaitan dengan laku terlarang yang boleh sembuh dengan taubat,
Sehingga penyakit yang datang tidak menyedarkan mereka dari perbuatan jahat.

Maharaja yang terhormat: Apalah lagi kalangan mereka yang hidup glamour,
Kami hembuskan tentang bahan-bahan mahal yang boleh panjangkan umur,
Bahkan pembedahan melahirkan pun menjadi tersohor,
Bukan kerana secara perubatan terbentur.

Maharaja iblis meneruskan musyawarah besar dengan bersemangat,
Kerana kerja keras jutaan anak buahnya telah lahirkan kerosakan amat hebat,
Segala usia, jenis kelamin, wilayah, dan bidang pekerjaan pengaruhnya sudah melekat,
Bahkan kini jutaan anak buahnya sudah gemilang dengan pelbagai muslihat.

Ia berfikir sangat keras untuk mencari strategi baru,
Tiba-tiba ia lantunkan kata di tengah suara yang menderu,
Wahai tenteraku yang setia dan tak pernah lelah dari masa lalu,
Inilah kataku untuk hancurkan hamba Tuhan yang jadi seteru.

Ini langkah terakhir kita menjelang Dajjal si pemimpin tiba,
Lakukan segala usaha untuk menambah para penderhaka,
Kembangkan instrumen baru dengan segera,
Agar kelak rakan kita di neraka tambah selera.

Wahai tenteraku yang telah dilaknat sampai akhir zaman,
Kita kerahkan hamba kita dari kalangan manusia ciptakan banyak permainan,
Yang akan membuat mereka habiskan banyak kekayaan untuk tontonan,
Seperti sukan dan segala yang membuat jiwa mereka terbuai dalam kefanatikan,

Jangan pula kalian lupa untuk para soliter yang gemar menyendiri,
Alihkan fikiran mereka dari tahajjud malam sunyi ke permainan berasas IT,
Buatlah tubuh mereka lemah waktu malam tanpa hasil hingga pagi,
Sehingga terbalik perintah nabi yang harapkan malam jadi sufi.

Jejalkan pula pada para pemuda budaya sampah tanpa makna,
Seperti astrologi, ramalan bintang, erti nama, dan berita berisi dosa,
Bumbuilah dengan kata bombastik yang membuat mereka terlena,
Agar mereka lupa berpegang teguh pada kuasa Allah yang esa.

Wahai tenteraku yang setia dengan kekejian dan pembohongan!
Buatlah mereka tidak yakin adanya siksa kubur yang pasti datang,
Yakinkan selepas mati manusia hanya hancur jadi tanah bagai di ladang,
Supaya mereka tidak takut untuk berbuat dosa dan lakukan apa yang dilarang.

Buat mereka terlena dengan angan-angan untuk beribadah selepas usia tua,
Padahal umur adalah ketentuan pasti dari Ilahi yang maha kuasa,
Dan ketika telah tua, tulang-tulang pun lemah tidak berdaya,
Jadilah mereka tertipu oleh bisikan-bisikan kita.

Janjikan kalau tua nanti boleh minta ampun,
Padahal dosa ditanggung sampai tua membuat pikun,
Justeru kerana terbawa sifat buruk anak keturunan jadi tidak rukun,
Jadilah mereka ketika ajal datang terkapar sendiri tanpa ada yang menuntun.

Janganlah lupa sasaran kita dari kalangan yang berusia lanjut,
Mereka yang tidak lagi jadikan syahwat kerana semua telah kecut,
Untuk golongan usia ini, goda dengan harta dan simpanan mutiara bak jabarrut,
Dan lupakan mereka bahawa semua ini tidak ada guna tatkala datangnya malaikat maut.

Kejayaan golongan kita sudah terbayang-bayang di depan mata,
Betapa sedikitnya manusia akhir zaman yang nantinya masuk syurga,
Kerana mereka tidak peduli larangan dan perintah Azzawajalla,
Dan agama hanya menjadi stempel kosong tidak bermakna.

Maharaja membolak-balik buku catatan yang sangat tebal dan lusuh dimakan usia,
Tibalah pada bahagian yang berhubungan dengan godaan fanatisme manusia,
Ia pun berkata lagi: mana golongan penyesat orang yang taat ibadah?
Laporkan perkembangan terakhir yang dikerjakan sudah.

Majulah kumpulan jin dan syaitan berkopiah dan berserban,
Membawa setumpuk bukti-bukti atas usaha penyesatan,
Juru bicara pun berkata: tuan, segera kami laporkan,
Perkembangan terakhir sangat menggembirakan.

Umat Muhammad tidak lagi disegani seperti masa dahulu,
Di tengah mereka kami ciptakan penghulu-penghulu palsu,
Kami pecah mereka jadi dua golongan tambah tujuh puluh satu,
Dan sekarang mereka cakar-cakaran dan terus berseteru.

Syair 5

Suatu hari menjelang akhir zaman ada muslihat akbar,
Iblis mengundang para syaitan untuk mengadakan musyawarah besar,
Mengevaluasi kerja jutaan pasukan yang di segenap penjuru telah disebar,
Serta melakukan desiminasi cara-cara terbaik untuk membuat manusia tersasar.

Dari segenap penjuru berbondong datang pasukan setia berbagai golongan,
Membawa sejuta prestasi untuk ditebar sebagai pembelajaran,
Agar kaderisasi keahlian dan militansi dapat selalu berkesinambungan,
Serta membuat makin canggih kaedah dan taktik penyesatan.

Datanglah maharaja iblis yang telah berusia tujuh ribu tahun,
Dengan pandangan bangga dia tatap jutaan pasukannya yang berhimpun,
Segala golongan dan kasta telah duduk rapi dan hierarki yang tersusun,
Untuk banggakan prestasi dan penemuan kaedah penyesatan baru yang anggun.

Mesyuarat dibuka oleh iblis tua yang sudah jengkel dengan kerentaan jasadnya,
Dengan mata sebelah dan jasad renta dia pekikkan kalimat penuh amarah,
Wahai rakyatku,wahai yang dilaknat Allah, wahai para tukang perdaya!
Kukumpulkan kalian hari ini untuk pesta pora nikmati kejayaan kita!

Sebelum kita berpesta, kuminta laporanmu wahai para tenteraku yang setia!
Tiba-tiba berdiri sekumpulan syaitan berdasi dengan penampilan ceria,
Si pemimpin golongan lantas berkata: “Daulat wahai maharaja,”
Izinkan kami yang khusus menggoda orang kaya untuk bicara!

Kami sampaikan padamu kejayaan kami menggoda mereka,
Bahawa sembilan puluh lima dari seratus mereka terperdaya,
Sewaktu miskin mereka sangat rajin beribadah dan selalu berdoa,
Tetapi setelah jadi kaya lalai dan habiskan waktu berpesta pora.

Dahulu, kalau bersedih mereka pun datang pada Allah berdoa,
Meminta pada-Nya sambil tersedu dan bercucuran air mata,
Tetapi sekarang berbeza, bila sedih mereka pergi ke tempat wisata,
Dan cari pelampiasan yang didasari pada hawa nafsu semata-mata.

Sang maharaja bangga mendengar sembilan puluh lima peratus kejayaan,
Hal itu memang sangan sesuai dengan yang Rasulullah bimbangkan,
Rasul tercinta tak bimbangkan umatnya kerana kemiskinan,
Tetapi menangis bila umat bergelumang kekayaan.

Tatkala kunci-kunci gudang harta Romawi dan Parsi berada di tangan,
Waktu akan habis untuk menghitung material dan emas batangan,
Ibadah pun terburu-buru dan keberkatan telah dianggap ringan,
Dan terhadap musuh telah duduk semeja makan satu hidangan.

Sang pemimpin kumpulan pun terus lanjutkan laporan,
Tuanku, kini riba yang dibenci Allah pun telah jadi kebiasaan,
Harta riba dibawa pulang ke rumah untuk beli pakaian dan makanan,
Dan tinggal di rumah mewah dari harta tak berkah pun mereka nyaman.

Raja iblis pun menguak bangga sambil tersenyum sinis penuh kepuasan,
Atas kejayaan tenteranya menipu manusia di dunia yang hanya perhiasan,
Mampu lupakan bahawa hidup di bumi hanya terminal dalam perjalanan,
Dan kelak sewaktu menghadap Allah membawa ribuan penyesalan.

Bagus tenteraku, terus ke depan tingkatkan lagi!
Buailah mereka dengan tanaman angan-angan dan mimpi,
Silaukan mereka untuk jadikan standard kehormatan adalah materi,
Supaya mereka makin lalai untuk persiapkan bekal selepas mati.

Sang raja memandang kumpulan yang matanya merah berselimut syahwat,
Nampak olehnya mereka sangat bahagia dan berdiri penuh semangat,
Maka disuruhlah mereka bacakan laporannya dengan suara kuat,
Supaya kedengaran jelas di tempat yang jauh dan dekat.

Komandannya memulakan laporan dengan suara menggelegar,
Dia bangga pasukannya Berjaya menggoda generasi muda yang masih segar,
Membuat mereka asyik dengan hasrat seksual sehingga imannya menggelepar,
Dan membuat hilangnya kehormatan dan rasa malu hingga makin jauh menyasar.

Diteruskan laporan kejayaan kumpulannya dengan nada berapi-api,
Mereka dibantu oleh sekumpulan hamba setia bernama sutradara dan selebriti,
Serta hamba-hamba genius yang disebut ahli teknologi informasi dan komunikasi,
Maka kebebasan berahi pun berkembang merosakkan anak-anak mereka yang masih suci.

Tiba-tiba ada satu regu syaitan yang tunjuk tangan sampaikan interupsi!
Protes keras atas tidak dimuatnya sebuah anomali yang terjadi,
Tentang sekumpulan kecil kaum muda pencinta syurgawi,
Yang terhadap segala model syahwat tidak peduli.

Terdengar suara yang mendengung bagai lebah,
Diikuti oleh umpatan di segala penjuru beserta sumpah seranah,
Serta kalimat-kalimat kotor yang bercampur dengan laungan amarah,
Yang dengan hebat mencaci maki perilaku generasi muda pencinta jannah.

Maharaja iblis pun terdiam, namun dengan tegas dia bertanya lagi,
“Berapa orangkah kaum muda yang tak mampu ditarik ke kiri?
Sang komandan menjawab, hanya tiga dari seratus laki-laki!
Dan tujuh dari seratus anak dara yang tetap terjaga suci!

Semua terpaku, namun tiba-tiba bersuara syaitan berdasi,
Akan kusampaikan, sekarang kalian tidak perlu bersedih lagi,
Para pemuda teguh yang kalian takuti kini sudah kami kuasai,
Mereka sudah berjaya kami tipu perlahan-lahan dengan menjadi artis.

Tahukah kalian, awalnya kami biarkan mereka masuk ke sana atas nama dakwah,
Bercampur-baur dengan hamba-hamba kami dan mulai kenal hidup mewah,
Mulailah mereka pandang yang haram dan subahat sebagai mubah,
Atas nama perjuangan bercampur antara nikmat dan musibah,
Majulah kumpulan syaitan ke tiga yang tangannya berdarah,
Mereka adalah rakan sejati para penguasa zalim sepanjang sejarah,
Terhadap perbezaan pendapat dengan rakyat disikapi dengan amarah,
Dan mereka yang gigih tegakkan keadilan disumbatkan ke dalam penjara.

Sang komandan sampaikan laporan,
Memang penguasa yang kami goda tidak banyak bertebaran,
Namun kalau satu berjaya diperhamba maksiat lainnya akan berkeliaran,
Dan mereka akan menjadi penguasa yang digelar rakyatnya sebagai syaitan.

Kami bisikkan bahawa mereka adalah penguasa yang selalu benar,
Kata-kata dan keputusan mereka adalah kitab suci yang harus disebar,
Padahal semuanya adalah kesesatan yang dibuat canggih dan nampak tidak kasar,
Namun hukum, ekonomi, sosial, politik yang dipakai dengan syahwat sebagai dasar.

Kami juga menguasai penuh para ahli, keluarga, menteri dan penasihat mereka,
Sehingga kebuasan mereka mirip dengan ganasnya sekumpulan serigala,
Yang dilakukan mengumpulkan harta dan mengayakan keluarga,
Maka jadilah mereka hamba-hamba kami yang setia.

Sang maharaja iblis kelihatan puas sambil menyeringai licik,
Matanya menatap pasukan di belakang sambil bertitah memekik,
Ayoh syaitan yang bertugas menggerogoti iman orang miskin ketika tercekik,
Laporkan perkembangan usaha kumpulanmu sesatkan mereka detik demi detik.

Sang komandan yang kepalanya botak pun mulai sampaikan laporan kemajuan,
Kami menggoda mereka bukan pada niat sewaktu membuat bangkangan,
Tetapi kami masukkan godaan sewaktu tindakan yang mereka lakukan,
Sehingga niat yang baik berubah jadi luapan kemarahan.

Keinginan sampaikan aspirasi berubah jadi umpatan caci maki,
Niat yang asalnya suci berubah jadi merosakkan dan anarki,
Menjadi jauh dari rahmat dan perlindungan Ilahi,
Bahkan secara total telah berubah orientasi.

Selanjutnya maharaja mengarahkan pemimpin iblis berserban untuk melapor,
Tugas mereka berat untuk menggoda orang berilmu dan tersohor,
Membisikkan berbagai macam impian pada para pelopor,
Sekalian akhirnya bertindak sebagai mentor.

Kami belokkan dakwah yang berisi peringatan dan khabar gembira,
Dari asalnya mampu menguras air mata menjadi pentas gelak ketawa,
Dipenuhi tepukan serta laungan di berbagai penjuru membahana,
Maka dari asalnya ikhlas berubah menjadi gumpalan rasa bangga.

Kami bisikkan bahawa dakwah itu perlu biaya,
Bahkan dibuat perincian angka-angka agar mereka percaya,
Maka ladang amal berubah layaknya pengurusan sebuah usaha,
Jadilah keberkatan dan hidayah sebatas ungkapan indah penghias bibir saja.

Raja syaitan pun tersenyum puas sambil picingkan mata,
Kerana usaha tenteranya yang tak kenal lelah memberi makin merata,
Tak peduli mereka yang tinggi ilmu agama pun makin berorientasi pada harta,
Dan tidak kisah kalau di sekelilingnya begitu banyak saudara seiman yang menderita.

Laporan berterusan: melalui hamba kami yang diletakkan sebagai pemegang anggaran,
Ke negeri-negeri pusat kesesatan putera-puteri terbaik mereka kami kirimkan,
Sebaiki pulang dari sana jadilah mereka pencaci maki ajaran Tuhan,
Menganggap kitab suci ribuan tahun sudah ketinggalan.


PUISI 19


iii

Anaku,
hari ini umat begitu terhina bak menggigilnya anak ayam dalam incaran raja angkasa,
tiada quttuz muda pemegang panji penghacur dua puluh ribu tentera Hulagu yang perkasa,
hanya perasaan rendah diri bak anak kambing yang terkapar lemah kerana patukan ular berbisa,
menunggu burung nasar akan meluluhlantakkan longgokan dagingnya dalam kesenangan pesta pora,
mana para singa muda penerus tradisi penaklukkan yang datang dari ganasnya gurun pasir Arabiya?
mana para pemegang panji kebenaran yang melaungkan takbir hancurkan penguasa angkara,
tak lagi terdengar pekikan tunggal yang menggetarkan simbol-simbol syaitan di alam raya,
tinggallah sejarah dan kenangan masa lalu bahawa mereka umat yang pernah berjaya.

Supremasi dunia masa depan hanya utopia bak burung pipit yang ingin jadi rajawali,
takkan muncul taring singa dari seekor kambing yang hidup di ladang-ladang sayur petani,
masa-masa emas melatih prinsip dan ketegaran dihabiskan dengan permainan semu sampai pagi,
tanpa sedar bahawa semua telah diatur bala tentera syaitan yang menjebak hamba-Nya melalui teknologi,
ada yang mencebek ketika datang peringatan bahawa ladang sayur bukan tempat latihan singa perkasa,
kerana lupa bahawa sesungguhnya ia putera singa yang terbiasa memakan makanan domba,
yang sehingga usianya tidak pernah mensyukuri pemberian taring tajam yang berbisa,
kecuali hanya habiskan waktu untuk makan, tidur, dan bersenda gurau saja.

Lihatlah, bala tentera syaitan telah kerahkan segala usaha melemahkanmu,
segala permainan yang menyenangkan telah dibuat untuk menghabiskan masa berhargamu,
membuat sia-sia kecemerlangan otak dan ketahanan fizikal yang menjadi modal emasmu,
sehingga hanya mencari sesuap nasi imbalan yang engkau peroleh dari perjuangan masa mudamu,
sedang mereka, setiap waktu memikirkan bagaimana jadikan engkau kambing gemuk yang lamban dan lemah,
yang setiap waktu boleh dijadikan rombongan serigala sebagai haiwan pembunuhan untuk pesta pora,
mereka para musuh berkomplot menguras habis kekayaan bumi di negerimu yang kaya,
sehingga kelak semuanya lenyap dan engkau pun jadi kumpulan pengemis tak berdaya.

Berhentilah merengek bagaikan bayi yang tak sanggup lepas dari pelukan ibunda,
hanya dengan sedikit luka, seekor anak rajawali akan terbang jadi raja angkasa,
hanya dengan sehari lapar, seekor singa akan tegakkan kepala menjadi calon raja rimba,
bukan menjadi burung pemakan padi di sawah yang puas hanya dengan banyaknya jumlah saja,
pengukir sejarah masa silam adalah mereka yang mampu latih diri tahan penderitaan dan kehinaan,
yang memiliki cita-cita besar dan semangat yang mewaja menghadapi berbagai rintangan,
yang jiwanya tak pernah menjadi lemah terhadap berbagai ejekan dan penghinaan,
dan yang meyakini bahawa jalan yang ditempuhnya senantiasa diredhai Tuhan.

iv

Anakku,
tulip-tulip muda dari kesunyian Gurun Sinai itu telah bangkit,
laungkan takbir yang menggema gentarkan puncak-puncak bukit,
bergegas bangun dari tidur panjang bak mereka yang sembuh dari sakit,
dan cuba kobarkan api cinta di jazirah para nabi walaupun hanya sedikit,
kini, para putera Salahuddin hunuskan pedang untuk sebuah kemuliaaan sejati,
menghalau berhala Firaun dan Zionisme yang cuba padamkan cahaya Ilahi,
darah yang tertumpah, itu hanya sebuah wujud transaksi sesuai janji,
tebarkan harumnya ke berbagai penjuru bak minyak kasturi.

Adakah kebangkitan itu kembali bak Quthuz hancurkan kesombongan Mongol di Ain Jalut?
ataukah hanya jutaan serpihan yang bagaikan buih tak berguna kerana takut?
atau kemenangan itu dicuri semula kerana di antara kita selalu ribut?
sungguh kebanggaan dan kemuliaan ini telah tercabut,
bak serpihan, tulip muda dibuai permainan semu Tuhan teknologi,
tanpa terasa masa emas hilang begitu cepat bak malam berganti pagi,
menyia-nyiakan begitu banyak peluang dan kesempatan yang telah Tuhan beri,
sehingga menjadi sesal yang panjang sewaktu tubuh dan akal telah lemah masa tua nanti.

Wahai putera rajawali yang telah diberi panji-panji penguasa angkasa,
betapa kini musuh-musuhmu duduk bongkak di atas kelemahanmu sambil tertawa,
berbual-bual menceritakan kebodohan jutaan umat yang begitu mudah dipecah belah,
sehingga mereka boleh digiring ke mana saja bagai sekumpulan domba yang tiada berdaya,
masa muda, kala bunga-bunga mekar yang harumnya dirindukan para penghuni syurgawi,
hari ini adalah masa terbaik yang telah dikurniakan Tuhan Maha Pemberi,
jangan sia-siakan masa itu untuk bergembira ria dengan alunan kecapi,
tetapi jadikan ia masa untuk melatih segenap kemampuan diri,
bila masa muda engkau telah berlatih sekuat besi waja,
kelak ibarat kuncup itu telah layu dimakan zaman yang fana,
engkau akan bertransformasi menjadi buah yang ranum dan berguna,
menjadi sumber inspirasi yang akan selalu diingat oleh generasi selanjutnya,
tiada waktu untuk berdiam memperbanyakkan tidur bagai beruang musim dingin,
jadilah burung pengembara ke berbagai negeri ikuti derus angin,
tak pernah berhenti gapai apa pun yang ia ingin,
sehingga kelak bertemu dengan haqqul yaqiin.




Manusia Di Padang Mahsyar


i

Bila kematian datang menyapa,
tersenyum mesra di ambang pintu,
resah pun menggelodar,
gundah menggelepar,
kematian datang sarat sukacita seakan tak ada beban,
namun ketika rembulan membiru,
semua berubah jadi pilu,
air yang dahulu jernih kini berubah warna;
merah kelam hitam pekat,
semerbak hanyir mengitari tubuh,
mengalir perlahan namun pasti,
menitis-nitis tanpa henti,
membiru sudah lengan dan jari jemari,
tersenggal nafas tercungap tersekat di halkum,
semakin menggelap pandangan seputar,
longlai tubuh lemah degupan jantung,
nafas terhenti dan gelap yang menyapa,
tiada lagi alam fana,
hilang dan lenyap segala yang ada.

Dalam kegelapan seorang diri,
akan datang soalan-soalan hisab,
jawapan yang diharap,
beriring paluan yang menggegar,
iman penyelamat mencurah segala nikmat,
sebelum bertamu di lawang kiamat.

ii

Tatkala semua makhluk bernyawa hancur binasa,
Israfil meniup angin sangkakala,
menghidupkan semula segala yang ada,
nyawa yang telah keluar dari raga,
tulang-tulang yang telah reput luluh,
tubuh yang telah membusuk buruk,
urat yang telah putus berkecai,
kulit-kulit yang telah pecah lebur,
rambut-rambut yang telah luruh,
bangunlah untuk menjalani hukuman,
Hakim Besar dan Raja kepada semua raja.

Lihat langit – langit berjalan-jalan,
lihat bumi – bumi bertukar wajah, tidak seperti bumi semalam,
lihat bintang-bintang, semuanya telah berhimpun,
lihat laut – gelombang api sedang bernyala,
lihat Zabaniah berdiri garang di hadapan,
lihat matahari – hilang cahaya.

Inilah yang telah dijanjikan,
inilah kebenaran para Rasul Tuhan,
“mereka berkata: Aduhai celakanya kami!
siapakah yang membangkitkan kami dari kubur tempat tidur kami?
dikatakan kepada mereka: “Inilah dia yang telah dijanjikan,
benarlah berita yang disampaikan oleh para nabi-Nya.”

Tanpa pakaian, tidak berkasut,
bertelanjang bulat tanpa seurat benang,
pelbagai rupa pelbagai bentuk dapat dilihat:
kera - kerana di dunia membuat fitnah,
khinzir - kerana suka makan rasuah,
buta - kerana keterlaluan pada hukuman sesama manusia,
pekak dan bisu - kerana hairan dengan amalan dilakukan,
mengalir nanah dan darah busuk - sentiasa menikam lidah sendiri,
inilah ulama yang bercakap dan mengajar tetapi berdusta,
luka-luka seluruh badan - kerana saksi bohong,
telapak kaki terletak di dahi dan terikat di ubun-ubun,
sangat busuk, lebih busuk dari bangkai;
orang yang sanggup membeli dunia dengan akhirat,
mencari kemewahan dunia dengan memperalatkan agama,
seperti orang mabuk, rebah ke kiri-kanan terhuyung-hayang,
kedekut harta dari dibelanjakan ke jalan Azzawajalla,
benar-benar mabuk - suka bersembang dalam masjid akan hal dunia.

Ada manusia berwajah khinzir - suka makan harta riba,
tidak bertangan berkaki - suka menyakiti orang-orang sekampung,
yang bangkit dengan perut penuh ular dan kala jengking,
mengigit-gigit dan menyengat-nyengat;
mereka di dunia payah berzakat,
darah busuk sentiasa keluar dari mulut - suka berbohong dalam perniagaan,
terpotong halkum, tercerai dari leher - sanggup bersaksi bohong,
ada yang bangun dari kubur tiada berlidah,
menggali darah busuk dari dalam mulut - malas mengucap kalimah syahadah,
berjalan dengan kepala di bawah dan kaki di atas langit,
darah dan nanah sentiasa mengalir dari kemaluan,
suka berbuat zina semasa hidup.

Ada bermuka hitam dan perut penuh api neraka;
suka memakan harta anak yatim secara zalim,
berpenyakit kusta dan sopak - derhaka kepada ibu bapa,
gigi seperti tanduk lembu,
lidah terjelir hingga ke perut,
najis dan kencing sentiasa keluar dari perut,
merekalah penggemar arak.


Balada Seorang Hamba

i

Kekasih,
masih layakkah bibir hamba-Mu lantunkan panggilan mesra itu?
sedang jejak cinta jiwa ini tak lagi bak seruling rindukan rumpun bambu,
malam-malam pun tak lagi terisi dengan tangisan Qais pada Laila yang penuh rindu,
dan jiwa ini telah dikotori bak seorang musafir lelah yang menempuh perjalanan penuh debu,
bagaimana hamba akan pertangungjawabkan semua pemberian-Mu yang begitu berharga ini,
bagaimana hamba membayar oksigen percuma yang telah Engkau beri,
bagaimana hamba harus bayar sifat lupa yang hapuskan kepedihan hati?
dan bagaimana hamba hitung semua pemberian-Mu sejak bayi.

Kekasih,
ke hadirat-Mu seorang hamba tundukkan kepala dengan pasrah,
ke hadapan-Mu datang dengan takut seorang petarung lemah yang kalah,
dia terjatuh bangun berhadapan dengan musuh-musuh-Mu yang tak pernah menyerah,
berharap kala di hadapan pengadilan-Mu kelak mendapat keampunan wahai Tuhan Maha Pemurah,
betapa lidah pemberian-Mu ini sering berkata yang tidak sesuai dengan kehendak-Mu,
telinga hamba masih terus digunakan mendengar hal-hal yang tidak berkenan di sisi-Mu,
tangan ini masih digunakan untuk pekerjaan yang membawa amarah-Mu,
sungguh hamba takut bagaimana nanti berhadapan dengan-Mu,
lidah ini masih berputar dalam pembaziran yang hampa makna,
jerit dan ratap permohonan beriring air mata hanya muncul dalam derita,
hari-hari pengembaraan yang pendek di dunia ini masih banyak diisi gelak tawa,
sedang tangisan betapa berat kelak himpitan tanah kubur makin hari semakin terlupa,
betapa kulit hamba perlahan-lahan mulai mengeriput bak bunga mekar menjelang layu,
cahaya mata yang dulu berbinar-binar indah mulai suram, letih dan kuyu,
sendi-sendi hamba kala pekatnya malam telah datang terasa ngilu,
pertanda malaikat maut semakin dekat di depan pintu,
bekalan apa yang akan hamba bawa pulang sebagai musafir?
tak ingin hamba menghadap-Mu sebagai pedagang yang faqir,
izinkan hamba untuk kumpulkan bekal amal-amal yang terus mengalir,
untuk modal hamba kelak ketika harus hadapi mahkamah-Mu di Yaumil Akhir,
izinkan hamba miliki lidah yang senantiasa mensyukuri nikmat-Mu,
rahmatilah hamba jiwa yang cepat kembali tatkala lalai dari jalan-Mu,
tanamkan rasa takut terhadap beratnya siksa kerana murka-Mu,
dalam kelemahan ini, redhailah untuk menjadi hamba-Mu,
wahai Allah,
tiada tempat hamba bersandar,
kecuali hanya pada-Mu.

ii

Kekasih,
hari ini tangisan Qais sang pencinta tak lagi terdengar pilu membelah malam,
segenap kepedihan dikubur dan ditutup rapat dalam dakapan masa silam,
hari berganti, kehidupan fana sebagai sifat segala yang ada di alam,
dan jiwa-jiwa para pembenci senantiasa abadi dalam kelam,
mana kerinduan para pencinta dari gurun pasir Arabia?
negeri para nabi kini bergelumang harta dunia,
tiada lagi Rabiatul Adawiyah sang pencinta,
yang menebarkan ajaran penyejuk jiwa,
hadir Firaun moden yang begitu kejam,
bak drakula yang tertawa sewaktu rakyat direjam,
yang pada derita sesama mereka hanya boleh diam,
sungguh di hati mereka bertumpuk dosa yang menghitam,
ke mana para pemimpin agung perkasa bak Salahuddin Al-Ayyubi,
yang laungan takbir menegakkan kembali kemuliaan dan harga diri,
yang sanggup menakluk ribuan marhalah gurun pasir bak Mahmud Ghaznawi,
angkat bendera tauhid menegakkan panji-panji Ilahi di seluruh tanah Hindi,
kurindukan pemimpin sederhana yang sedari jawatan adalah amanah,
bukan mereka yang berbangga dengan jawatan sambil tertawa pongah,
bukan mereka yang habiskan wang negara demi penampilan megah,
atau yang menghina rakyat jelata dengan pesta-pesta mewah,
mana pemimpin yang larut dalam tangisan waktu malam,
yang takut pada pengadilan maha penguasa alam,
yang belajar pada penderhaka masa silam,
yang sedar segala tertulis dengan kalam.

Kekasih,
ke mana lagi harga diri umat ini,
berjuta pencinta-Mu diserak bak sepiring nasi,
yang dihina para pembenci-Mu waktu petang dan pagi,
yang tak sanggup penuhi janji menjadi khalifah di muka bumi,
kurindukan datangnya hamba-Mu yang memimpin mereka yang beriman,
yang rindukan syurga dan kemuliaan ukhrawi bak generasi dahulu pada suatu zaman,
agar dunia mendapat rahmat dari-Mu dan seluruh penghuninya hidup bahagia dan aman,
akhir zaman ini, berilah kami seorang pemimpin yang taat kepada-Mu wahai Allah Maha Rahman.

iii

Kekasih,
kini di akhir perjalanan mata jiwaku nan gelap telah terbuka,
cahaya-Mu datang bak kerinduan Musa pada-Mu di Lembah Tuwa,
kerinduan yang hancurkan angkara nafsu keangkuhan seorang hamba,
yang jelang akhir pengembaraan menuju perbatasan duka dan bahagia,
air mataku, pertanda diri telah menyerah dalam pertarungan sejati duniawi,
nestapa jiwa dalam kehampaan menutup keangkuhan diri yang tak disedari,
kaki tak lagi mampu melangkah untuk bangkitkan kesejatian diri,
hanya pasrah ikuti aliran ombak ke samudera luas tak bertepi,
betapa agung cahaya yang Engkau tampakkan dalam rahsia,
cahaya-Mu yang mampu mengubati kerinduan nan abadi dalam jiwa,
cahaya-Mu yang agung telah getarkan bisik kerinduan jutaan manusia,
cahaya-Mu yang mampu menghancurkan beratnya godaan iblis raja angkara,
kini, hanya kepasrahan dalam nafas menderu jelang kematian kuhadapkan,
bait demi bait nyanyian rindu yang tak bertepi boleh hamba aturkan,
betapa perjalanan yang meletihkan ini telah di batas tujuan,
penuhi panggilan-Mu sebagaimana dahulu perjanjian.

Kekasih,
mengapa langit menjadi gelap dan tiada lagi matahari?
perlahan-lahan cahaya mata ini makin redup dari pesona duniawi,
hanya tertinggal detik demi detik perlahan nyawa ini akan pergi,
tinggallah kelak diri hamba bersama para penghuni kubur yang sunyi,
mengapa amat kurang syukurku atas pemberian yang kini menghilang,
dahulu dunia begitu indah bagai hijaunya gunung yang menjulang,
tetapi kini hanya beratnya nafas memburu penghantarku pulang,
sungguh terlambat sesal ini kala mentari jiwa telah petang,
ingin kulaungkan pada para penyair pemuja keindahan nafsu,
tak guna pemujaan yang lahirkan setumpuk kebanggaan palsu,
pekikan demi pekikan yang memukau, kelak akan dianggap angin lalu,
sedangkan jiwa manusia yang terbawa dalam gelap kelak menjadi sekutu,
dalam asa yang begitu lemah bak pasrahnya domba di mulut singa,
dalam genggaman malaikat maut-Mu yang menunggu di depan mata,
dalam penyesalan yang membuatku tak berhenti alirkan air mata,
berilah hamba keampunan walau bagai debu di jagat raya,
kekasih, hanya padamu kusandarkan asa.

iv

Kekasih,
malam-malamku sepi bagai tangisan Qais di tengah gurun sunyi,
Laila telah pergi membawa luka dan kepedihan yang menyayat hati,
hanya air mata dan desiran angin gurun yang setia dan abadi menemani,
dan kepasrahan jiwa yang patah menunggu datangnya panggilan janji Ilahi,
cinta pada-Mu, sebuah ungkapan indah yang telah berkarat diterpa waktu,
tiada lagi ratapan kasih di tengah dinginnya malam-malam yang berlalu,
pasrah ekori takdir bak karang dilamun dahsyatnya ombak nan bisu,
dan perlahan-lahan jasad pun menua dalam perihnya rintihan rindu.

Kekasih,
ke mana wajah yang berlumuran debu akan hamba sembunyikan,
ke mana pekatnya hati dalam dusta pada-Mu akan hamba adukan,
ke mana pun diri pergi segala kekuatan-Mu selalu Engkau nampakkan,
sungguh mengalir air mata tatkala teringat hari pertanggungjawaban,
Laila-ku pergi kerana cinta di hatiku menipis oleh hebatnya godaan dunia,
ia pergi ke hati para pencinta-Mu yang jalani hidup dengan sederhana,
yang ungkapkan kerinduan dan cinta sebagai hamba-Mu yang hina,
dan tiada tergoda oleh gemerlapnya dunia yang mempesona,
kerinduan ini bagai terpenjara dalam kukuhnya karang,
senja waktu yang kian dekati akhir ia kembali mengerang,
bak merontanya perajurit yang dahulu begitu gagah dalam berjuang,
dan berharap kelak akan kembali pada-Mu sebagai pemenang.

Kekasih,
maafkan kelalaianku keterbatasan iman dan godaan duniawi,
ampuni hamba atas segala pelanggaran terhadap yang tak direstui,
bimbinglah hamba agar jalan ini tak menyimpang lebih jauh lagi,
dan sedar bahawa kematian adalah sesuatu yang memang pasti,
dalam cucuran air mata dan wajah tertunduk kerana bersalah,
berilah hamba hati yang selalu kuat dan istiqamah untuk berubah,
agar dikubur dan akhirat nanti hamba jauh dari pedihnya musibah,
serta diberi keampunan atas semua perlanggaran yang menjarah.

Kekasih,
kurindukan Laila-ku akan kembali jelang masa senja kehidupan,
teguh dalam cinta bagai Qais yang menikmati cinta dalam kesendirian,
berharap jiwa akan berbahagia dalam cinta dan redha Tuhan,
sebelum kelak dihadapkan semua amal ini di muka pengadilan.



Syair Kehidupan

Wahai Tuhan tempatku berpadu,
Ke hadrat-Mu jua hamba mengadu,
Walau godaan datang selalu,
Tetaplah firman-Mu pembimbing jalanku.

Betapa berat zaman ini,
Segala jalan terhadang duri,
Yang baik terkucil dan menyendiri,
Pada-Mu jua hamba kembali.

Betapa pedih di dalam dosa,
Pandangan manusia diri terhina,
Walau berusaha tiada daya,
Pada-Mu jua hamba meminta.

Betapa damai hidup dalam iman,
Di dalam dada terasa nyaman,
Rumah tangga pun selalu aman,
Banyak rezeki dan ramai teman.

Cubaan berat datang menerpa,
Segala yang salah selalu dijumpa,
Peduli banyak atau tak seberapa,
Tetapi nikmat-Mu kadang-kadang terlupa.

Di dalam dada terasa sempit,
Jantung di dalam bagai terhimpit,
Menarik nafas pun terasa sakit,
Berilah kelapangan walau sedikit.

Waktu yang hilang bagaikan kilat,
Tak pernah kembali atau mendekat,
Seperti kupu-kupu darilah ulat,
Hanyalah sesal datang terlambat.

Tiada yang pernah akan disesali,
Keadaan sekarang buatan sendiri,
Sesukar apapun akan dicari,
Asalkan Engkau selalu meredhai.

Wahai Ilahi yang Maha Ghafur,
Maafkan hamba kurang bersyukur,
Nikmat sedikit sudahlah kufur,
Seakan lupa sempitnya kubur.

Walau jalanku kadang-kadang menyimpang,
Keampunan dan kasih-Mu begitu lapang,
Tatkala menangis hamba-Mu datang,
Diterima taubat tanpa menentang.

Wahai Ilahi pembalik qalbu,
Imanku lemah lidahku kelu,
Pada-Mu jua dipohon selalu,
Dikuatkan iman sudahlah tentu.

Pada-Mu jua hamba bersandar,
Bagaikan terikatnya kayu pengandar,
Kalaulah lepas ia terbuyar,
Menangis hamba terketar-ketar.

Malam gelap hamba terbangun,
Duduk sendiri sambill melamun,
Memohon maaf memohon ampun,
Angan membumbung setinggi gunung.

Itulah hidup kadang-kadang terlalai,
Terkena cubaan jadi terkulai,
Bagaikan ayam sedia digulai,
Maafkan hamba kerana terbuai.

Ampuni hamba Pemilik Jagat,
Kalaulah ada perbuatan yang jahat,
Membuat sesama terasa berat,
Agar selamat hidup akhirat.

Kadang-kadang hamba ingin bertanya,
Mengapa sering hati merana,
Kepada Dia di singgahsana,
Yang Maha Adil lagi sempurna.

Pada-Mu jua hamba berharap,
Di dalam sujud sepenuh kudrat,
Menangis pada-Mu terasa nikmat,
Hanya pada-Mu hamba menghadap.

Inilah syair curahan hati,
Susah dan senang sudah di titi,
Berharap hidup akan diberkati,
Diberi redha tatkala mati.

Kepada Allah hamba meminta,
Hidup bahagia di dalam syurga,
Bukan hidup di dalam neraka,
Di samping Rasul-Mu pembawa ceria.


Gurindam Wahn (Cinta Dunia Takut Mati)

Pada hari ini,
kilatan pedang para pengembara syurga nyaris tiada lagi di bumi,
pekikan takbir telah berganti seruling muzik yang mendayu merasuk hati,
panglima perkasa seperti Sallahuddin Al-Ayubi terputus dan tiada generasi,
tinggallah umat yang sepanjang lahir hingga mati sibuk demi pemenuhan syahwat materi,
sungguh harga diri para pencinta Ilahi kini telah mati,
kadang-kadang, kegeraman bergejolak di dalam dada,
tatkala bom-bom berjatuhan di Iraq, Afghanistan dan Gaza,
namun rasa itu hanya sejenak dan segera diganti khabar duniawi yang meriah,
tinggallah mereka hidup dalam kehinaan dan teraniaya,
sungguh izzah telah begitu lemah.

Utusan agung masa lalu telah ratapkan kesedihan hati,
dia tak bimbangkan kemiskinan pada umat yang akan bergelumang materi,
segala kekayaan berdatangan tatkala pusat-pusat kekayaan dunia telah dkuasai,
tinggal kini kenangan tentang para pengembara yang bahagia sambut datangnya mati,
utusan agung dahulu telah berwasiat tentang datangnya agama secara aneh,
dan kelak, segala yang telah diajarkan olehnya dianggap aneh bahkan remeh,
yang dahulu dibangga kini dinista, yang dulu dilarang sekarang boleh,
dan darah umat pun tiada berharga di mana-mana meleleh.

Kurindukan gagahnya pasukan Khalid bin Walid muncul bagai malaikat dari tengah gurun,
tawarkan perdamaian atau biang segala ketakutan perang akan terhimpun,
para penentang akan disapu bagaikan dahsyatnya badai taifun,
sungguh tinta emas sejarah yang membuat diri tertegun,
sedang pada zamanku,
para pemuda gagah seperti Ali dan Hamzah sibuk habiskan malam dengan tuangan arak,
kepala dan tubuh mereka bergoyang ikuti alunan muzik nan semarak,
antara mereka dengan Tuhannya garis cinta telah retak,
dan pasukan iblis pun tertawa terbahak-bahak.

Wahn telan melanda,
musuh pun datang bagai pasukan berkuda,
menjajah peradaban dan merampas semua hasil bumi yang ada,
sedang diri, hanya tersandera dalam tumpukan hutang demikian lama,
sungguh sebuah kehinaan yang menyakitkan dada,
semuanya kerana wahn,
keinginan hidup abadi dan ketakutan terhadap kematian,
segala usaha digunakan untuk membuat kulit tubuh tetap rupawan,
dan merasa bangga apabila di hadapan manusia boleh memikat dan tampil menawan,
sedang jiwa,
meronta-ronta kerana miskin dan menderita,
di rumah-rumah nan mewah kitab suci dibaca jadi langka,
setiap hari sibuk menghitung penambahan emas dan permata,
dan tanpa sedar rambut memutih dan bersedia untuk menutup mata.

Kehinaan akan semakin dalam dengan tetap memelihara wahn,
kehidupan akan jadi lemah tanpa pengorbanan pahlawan,
terhadap kekuasaan ia sanggup untuk melawan,
sehingga berharga di mata Tuhan.

Aku rindu,
para pemuda yang tegakkan kepala tunjukkan ilmu,
atau mereka yang tekun jelajahi dunia taklukkan tebalnya buku,
membaca ayat-ayat-Nya di semesta raya membuat orang takjub terpaku,
sehingga kejayaan yang pernah ada tidak sebatas kisah yang ada masa lalu,
tidak mungkin negara-negara perkasa penguasa teknologi akan mahu berbahagi,
bagaikan singa, tiada yang mahu berbahagi tempat dengan seekor sapi,
kerana kekuatan akan membuatnya memegang supremasi,
dan bangsa lain bagai pengemis mohon dikasihani,
mengapa para putera pengembara syurga tiada sedar,
mereka berikan hanya budaya hingga yang di negerinya telah memudar,
bantuan teknologi yang diberikan untuk uji cuba sebelum dijual sebagai saudagar,
wahai pemuda, mengapa engkau tidak isi dadamu dengan kekuatan iman para mujahid Badar,
tiada putera helang yang perkasa tanpa pendidikan yang kejam dan kuat dari sang induk,
atau bagaikan anak singa gurun ditinggal induk tatkala ia masih ingin dipeluk,
walau kasih sayangnya luar biasa, menangis ia dengan menunduk,
agar putera raja gurun tidak lemah seperti pelanduk.

Anakku,
jadilah engkau pengembara akhirat seperti pendahulumu,
ukirlah tinta emas sejarah zamanmu,
dan kami akan berdoa untukmu,
agar kasih-Nya bersertamu.



Ashabul A’raf

Anakku,
dengarlah olehmu khabar Tuhan tentang suatu golongan akhirat,
agar dalam jalani langkah hidupmu dapat dijadikan ibarat,
di dalamnya terdapat banyak ajaran yang tersirat,
untuk lalui masa mudamu yang begitu berat,
di dalam Al-Quran, kelak manusia akan terbahagi kepada tiga golongan,
Ashabul Yamin penghuni syurga merupakan golongan kanan,
Ashabus Syimal golongan kiri nerakalah kediaman,
dan Ashabul A’raf yang akan dikisahkan.

Anakku,
kelak selepas masa Yaumil Hisab terjadi,
para pencinta akan masuk ke golongan syurgawi,
wajah mereka gembira dan memancarkan cahaya berseri,
sebagai balasan atas segala ketaatan pada perintah-Nya yang pasti,
di dalam syurga-Nya yang indah, tiada lagi kesedihan dan penderitaan,
yang ada hanya kebahagiaan dan segala kesenangan,
dengan mudah akan dapatkan segala keinginan,
yang didapati bukan dalam kesementaraan.

Adapun Ashabus Syimal dalam penderitaan,
jerit tangis kepedihan menahan siksa bersahut-sahutan,
sumpah serapah antara keluarga dan sahabat saling menyalahkan,
itulah kepedihan abadi yang senantiasa akan dirasakan sebagai balasan,
di dalam neraka, tiada satu pun janji iblis dan tenteranya akan terealisasi,
yang ada hanya kekejaman, siksa dan sakitnya cambukan besi,
sakit tak terhingga sehingga melelehkan tegarnya hati,
itulah sesal para pendosa selepas mati.

Bagaimana dengan golongan ketiga,
yang berada di sepanjang tembok tinggi bagai menara,
yang di kanannya kelihatan kebahagian abadi para penghuni syurga,
sementara di kiri nampak kengerian siksa para ahli neraka,
dan di tengah-tengahnyalah mereka berada,
siapakah mereka?
Apa pula amalan mereka?
mengapa begitu keadaan mereka?
ke mana akhirnya mereka?

Anakku,
Rasulullah tercinta telah bersabda tentang mereka dalam hadisnya,
mereka adalah para pemuda syahid yang pergi perang tanpa redha ibu bapanya,
maka pahala syahid dan ketidakredhaan orang tua berada di tengah-tengah,
sehingga mereka menunggu di tembok yang tinggi sehingga ada syufaat baginda Rasul mulia.

Anakku,
Banyak pendapat tentang kewujudan mereka,
mereka adalah hamba yang berimbang pahala dan dosa,
ada juga yang mengatakan mereka adalah anak zina,
juga yang menyatakan mereka orang soleh yang rihlah,
serta golongan yang mana ibunya tidak dan ayahnya redha,
atau orang yang mati pada zaman kekosongan nabi-Nya,
juga ada yang mengatakan mereka itu para nabiyullah,
atau kaum yang beramal kerana Allah tetapi mereka riyak,
dan boleh juga kaum berdosa kecil, tidak terhapus musibah.

Kisah tentang golongan ketiga ini ajarkan kepada kita,
untuk istiqamah dalam beribadah kepada Allah Azzawajalla,
untuk patuh dan hormat pada ayah dan bonda,
serta tidak campurkan yang benar dan berdosa,
jangan ragu untuk jauhi maksiat,
serta selalulah pegang pada amanat,
selalu merasa diawasi malaikat,
dan yakini rahmat Ilahi terlalu dekat.


Pencinta Ilahi
(Puisi ini merupakan penafsiran tentang golongan yang Allah SWT nyatakan dalam surah Al-Maaidah: 54-56, dan surah Al-Mujadalah: 22)

Sebuah janji pasti disampaikan sang kekasih melalui firman-Nya yang agung,
tentang sekumpulan manusia yang hidup dan matinya beruntung,
yang senantiasa jadikan Allah sebagai satu-satunya pelindung,
walau godaan harta dan penderitaan sebesar gunung,
dalam cinta kepada-Nya yang tak pernah berpaling,
dan bukti kesetiaan dan pengorbanan yang seiring,
cinta pada Ilahi bagi mereka adalah yang terpenting,
serta balasan cinta-Nya pada mereka akan sebanding.

Di dalam jiwanya tersimpan kelembutan bagaikan sutera,
taruhkan nyawa untuk membela agama dan saudara,
amat kasih pada sesama jauh dari pertumpahan darah,
saling menasihati dalam kesabaran jauh dari amarah,
tetapi awas, ketika agama Ilahi dihina oleh golongan ingkar,
semangat juangnya akan membara bagai api yang membakar,
sehebat apa pun kedahsyatan musuh tak akan membuatnya gentar,
tiada kemuliaan baginya kecuali tegak sebagai syahidin di padang mahsyar.

Dengan mata yang tajam bersinar kerana kemuliaan dan ketinggian izzah,
para pencinta Ilahi pergi ke berbagai wilayah bagaikan pengembara,
mencari kemuliaan agama atau berakhir syahid dengan janji syurga,
yang kelak akan disambut tujuh puluh bidadari Jannatul Ma’wa.

Masa lalu,
terkenal kisah hebat para mujahid Perang Mut’ah,
Jaafar bin Abi Thalib, Zaid dan Abdullah bin Payahah syahid di sana,
3,000 pencinta Ilahi,
mampu gentarkan 200,000 perajurit Romawi yang berwibawa,
dan di tengah gurun sunyi,
terbaring jasad para mujahid diliputi harumnya darah,
yang semangat juangnya abadi,
lintasi waktu ribuan tahun dan jadi inspirasi para pencinta.

Dalam perjalanan zaman,
para pencela lancarkan perang psikologi untuk runtuhkan semangat,
melalui propaganda, fitnah keji,
ugutan serta pasukan maklumat yang sesat,
ataupun celaan yang dilontarkan oleh orang munafik,
dan para pengkhianat,
sehingga para pejuang suci,
diinformasikan sebagai pengganas jahat.

Bagi mereka,
kurnia dan keredhaan Ilahi adalah segalanya,
mereka jadikan pemimpinnya hanya Allah dan Rasul-Nya,
dan orang-orang beriman sebagai saudaranya,
dengan ciri khas yang jelas dalam firman-Nya,
dalam firman suci Dia nyatakan,
orang beriman solatnya selalu tegakkan,
terhadap harta yang diberi Allah mereka zakatkan,
dan mereka juga rukuk bersama umat yang Allah pilihkan,
hidupnya teguh jadikan Allah, Rasul, dan orang beriman sebagai pemimpin,
terhadap kebenaran janji-Nya mereka senantiasa beriman dan yakin,
kelak mereka akan dimuliakan sebagai golongan yang muttaqin,
dan dimasukkan ke dalam syurga-Nya haqqul yakin.

Mereka itulah golongan Allah,
yang senantiasa akan ada di setiap masa,
di tempat terpencil atau ganasnya Gurun Sahara,
mereka penjaga setia tegaknya harga diri agama Yang Esa,
sungguh sebuah pengabdian mutlak berlandaskan redha-Nya.

Bunga Mekar Telah Layu

Kini bunga-bunga mekar dari timur telah layu,
bagai layunya hidup Qais yang ditinggal Laila dalam kepedihan yang mendayu,
seakan jasad tanpa jiwa yang telah pergi dibawa badai gurun yang menderu,
dan tinggalkan kepedihan dalam jejak masa lalu,
mana Iqbal muda yang gaungkan kebangkitan?
atau seorang Jamaluddin pelopori bangkitnya kekhalifahan,
ke mana ‘pena Al-Quran’ Sayyid Qutb muda pembangkit gelora zaman,
semua pengganti telah diam terkubur pasrah di bawah telapak kaki kehinaan.

Nyanyian kepedihan Gaza dan Moro yang teraniaya,
Chechnya dan Bosnia yang sengsara,
Palestin, Pattani dan Rohingya yang menderita,
bergaung dan bergema pedih menembus cakerawala,
telinga putera harapan kini pekak mendengar jeritan muslimah yang teraniaya,
wahai para putera pahlawan gurun,
di mana kini engkau berada,
ataukah telah menjadi sebahagian dari para penjajah,
mutiara langit yang diturunkan padamu kini tersia-sia,
bagaikan permata berharga yang dibuang ke dalam longgokan sampah,
yang diambil adalah kumpulan budaya hedonis berlumur syahwat tanpa jiwa,
dan membuat kehidupan berjalan bagaikan pengisi waktu yang berlalu tanpa makna.

Sungguh, kehinaan telah merata di segenap penjuru,
jeritan para penyeru lemah bagai ungkapan yang bisu,
sia-sia dan dianggap nostalgia kebangkitan masa lalu,
bahkan sebahagian menganggapnya sebagai seteru,
sungguh iblis tertawa puas melihat umat akhir zaman,
yang tiada rindu untuk hidup dalam naungan Al-Quran,
yang habiskan harta untuk beli semua kesenangan,
dan mengejar mimpi yang berlari bagaikan bayangan,
andai bunga mekar sedari masa mereka adalah emas berharga,
tentu takkan habiskan waktu mengejar kesenangan raga,
berjuang sepenuh hati untuk menggapai indahnya syurga,
yang janjikan kesenangan tak terhingga.



Sebuah Pesan

Pesan 1

Wahai pelita jiwa,
bisikan maut di kesunyian malam seakan-akan terus memanggilku,
mesra bagaikan Lukman memanggil puteranya dengan sebutan anakku,
atau bagai kerinduan suku Bajau terhadap deburan ombak samudera biru,
yang tak pernah lelah dan berhenti mengalir sejak tercipta masa dahulu,
dalam pedih yang menyayatkan goresan dalam bagai sembilu,
dan dalam kesakitan yang meruntuhkan ketegaran jiwa aku tersedu,
bagai kepedihan Ya’akub yang buta ratapi Yusuf putera tercinta kala itu,
sebuah pesan kusampaikan sebelum gelapnya kubur sembunyikan jasadku.

Dalam gemuruh menahan pukulan sakit di dalam dada dan nafas tersengal,
kusampaikan pesan padamu wahai yang selamanya akan kutinggal,
jadikan cinta kasih pada-Nya sebaik-baiknya modal dan bekal,
dan jadikan hati yang penuh iman sebagai kendali akal,
dalam mimpi-mimpiku kadang-kadang datang mereka yang sangat kurindukan,
lambaikan tangan dari kejauhan dan menyapa ramah dengan senyuman,
mengajak pada hidup yang tak lagi perih dan sembunyikan tangisan,
dan membuat semua pertahanan runtuh menuju kehancuran,
kelihatan di pelupuk mataku tentang kehidupan yang hanya permainan,
yang datang dan pergi torehkan catatan bagai panggung persembahan,
juga tentang tipisnya rahsia hati antara kepedihan dan kebahagiaan,
kerana ia adalah pasangan yang keduanya saling bertaut bertindihan.

Kini, semua peritiwa tersimpan dalam peti yang sangat besar,
yang kelak dibuka pada hiruk pikuknya pekikan kepedihan di Mahsyar,
dalam benderang mentari jutaan manusia yang lalai bingung dan tersasar,
dan ratapi kemalangan atas kederhakaannya kepada Allah yang maha besar.

Wahai pelita jiwa,
tiada kusesali apa yang menjadi titik balik peristiwa,
walau kutahu ia telah hitamkan putihnya jiwa,
dan telah jadikan hidupku kehilangan tawa,
dan menjadi keruh bagaikan paya,
dalam hari yang tersisa,
daku bermohon pada-Mu wahai Yang Berkuasa,
kiranya Engkau berkenan anugerahkan amal sebagai jasa,
dan ampuni segala perbuatan hamba-Mu yang berlumuran dosa.

Pesan 2

Dalam kepedihan,
melihat semakin redupnya cahaya,
seorang pencinta rindu,
melaung menggetarkan dunia masa jaya,
para pemuda yang berlumba-lumba,
melakukan transaksi rebut kemuliaan Jannatul Ma’wa,
yang tak pernah gentar dan takut,
terhadap cemuhan serta penghinaan para pencela.

Tariq bin Ziyad dengan keteguhan luar biasa
membakar semua kapal seberangi Giblatar,
dengan sejumlah kecil mujahid hadapi serangan tentera barat tiada gentar,
hingga empat ratus tahun agama Ilahi di daratan Eropah bersinar,
dan peradaban yang bermoral pun luas tersebar,
di mana kini,
para pencinta dengan ratusan sayatan pedang,
seperti Al-Bara’ bin Malik,
ataukah mereka yang mengembara ke segenap negeri demi Al-Khalik,
yang cucurkan air mata rindu tengah malam di sempitnya bilik-bilik,
atau berani hadapi para penentang yang zalim dan zindik.

Nyaring seruling tasbih, takbir, tahmid,
dan tahlil para pencinta kini telah menghilang,
berganti irama piano, gitar,
dan biduanita pembangkit berahi yang berdendang,
atau tari-tarian berselimut nafsu,
dan lemah gemulai dengan selendang,
membawa keterlekaan duniawi,
yang dengan sengaja diundang,
betapa jauh kebangkitan akan hadir,
dan lemahnya jiwa para pelopor menyambut takdir,
para pewaris bumi sebagai khilafah-Nya kini berada di titik nadir,
bersama kehinaan umat penganut agama Ilahi bagaikan tiada akhir.

Ke mana engkau wahai tunas-tunas perkasa yang selalu di depan?
tidakkah di hatimu yang gagah boleh kuembankan harapan,
untuk membawa umat ini bangkit dari kehinaan,
dan mulia sebagai umat pilihan Tuhan,
mengapa engkau cari ubat hati bukan pada kitab-Nya?
tetapi bergantung siang dan malam pada racun para pembenci-Nya,
engkau jadikan muzik, kehidupan bebas,
dan kemuliaan duniawi sebagai ganti redha-Nya,
sungguh, semua itu akan membawamu semakin jauh dari jalan-Nya,
tidak akan madu dihasilkan oleh seekor beruang pemangsa,
kalau pun ia nampak seperti madu, sesungguhnya itu racun berbisa,
yang akan membuat semangat juangmu lemah dan mudah berputus asa,
serta membuatmu asyik dengan perilaku dan berteman dengan para pendosa,
manakala bibit padi yang engkau tanam,
tidak akan gandum yang engkau ketam,
manakala ikan yang kau tebar ke kolam,
tidak mungkin engkau dapatkan ayam.

Sedarlah,
betapa musuhmu terbahak-bahak melihat lucunya sebuah kebodohan,
tidak perlu lagi datang membawa senjata untuk lakukan penjajahan,
kerana dirimu dengan sukarela jadi agen atas nama kemajuan,
yang tanpa sedar telah sebarkan sampah peradaban,
sungguh Rasulullah telah ingatkan ribuan tahun yang silam,
bahawa jika tinggalkan dua pusaka itu kejayaan akan tenggelam,
yang tinggal hanya kenangan terhadap catatan sejarah masa silam,
bagaikan tragedi kisah penantian dalam cerita si gadis penyulam.

Wahai generasi pelopor,
Di tanganmu telah teremban amanah sebagai pemegang obor,
pergilah engkau sebagai penerang bagaikan cahaya mentari ketika lohor,
dan jadikan diri sebagai pengembara kebenaran sejati yang jauh dari keinginan tersohor,
belajarlah dari Ibrahim El-Khalil,
yang mencari kebenaran dengan kehanifan jiwa,
atau bagaikan kisah Khaidir ajari Musa,
bagaimana tundukkan sifat jumawa,
atau Ibrahim bin Adham yang tinggalkan harta,
demi selamatkan jiwa,
dan pelajaran lain yang boleh engkau ambil dari banyak peritiwa.

Berhentilah perdebatkan kebenaran apa yang telah diturunkan-Nya,
berlumbalah engkau untuk berada di garis terdepan,
untuk mengamalkannya,
sebuah perlumbaan syurgawi yang akan membawamu,
pada kenikmatan redha-Nya,
nescaya kebenaran akan bersinar terang,
dan engkau akan menjadi hamba yang dimuliakan-Nya.

Lailatul Qodar

Betapa kerlap kerlip bintang di cakerawala begitu indah malam ini,
Kebisuan alam semesta bagaikan memberi isyarat kepada hati,
Bahawa malam ini layak bagi seorang hamba untuk meratapi,
Kerana ada berjuta rahmat ditebar para malaikat Ilahi.

Dedauan diam dalam zikir semesta ketundukan,
Unggas malam pun bertafakur dalam kesunyian,
Pertanda kepatuhan diri pada kehambaan,
Serta pasrahkan hidup mati kepada Tuhan.

Ada malam dipenuhi rahmat-Nya,
Malam seribu bulan ganjarannya,
Tiada pinta yang ditolak oleh-Nya,
Sebagai bukti kasih sayang-Nya.

Malam yang dirindukan jutaan insan,
Ditunggu para pencinta sepanjang zaman,
Yang tadahkan doa beriring sedu dan sedan,
Agar di dunia akhirat mendapat keselamatan.

Adalah malam tatkala jutaan malaikat turun ke bumi,
Intai hamba yang bermunajad dan tangis di malam sunyi,
Harapkan kemuliaan beriring redha-Nya yang Maha Abadi,
Serta dapat husnul khotimah kala kematian menjemput nanti.

Malam tatkala angin pasrah dalam penyatuan tenaga jagat raya,
Malam tatkala manusia dan jin beriman hadapkan segala doa,
Malam ketika tiada satu pun tak berharap makhluk yang dicipta,
Malam yang jadi titik harapan keadilan mereka yang menderita.

Mereka yang hatinya telah bersatu dalam kerinduan ukhrowi,
Jadikan kedatangan Lailatul Qodar bak kekasih yang dinanti,
Dada berdegup kencang menunggu datangnya cinta sejati,
Yang dengannya bagai akan diikat teguhnya sebuah janji.

Malam kerinduan, malam yang mulia seribu bulan,
Padanya tertumpuk segala macam harapan,
Diampuni segala dosa dan kesalahan,

Serta mendapatkan redha dari Tuhan.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

ASMAUL HUSNA