Ahad, 14 Mac 2010

PUISI-PUISI 2005 UNTUK SIMPANAN

SAJAK-SAJAK 2005 UNTUK SIMPANAN

Nota Seorang Aku; Menunggu Mata Air Air Mata Hingga Tumbuh Kemboja

Telaga ini jernih airnya memantul sinar di wajahmu
kala memungut dedaun kering hanyut
lentera jatuh ke kali: “aku melihat raut bulan kusut.”

Menerawang geram ke hilir
gelap menyapu sudut mata
menyisir liar ke hulu
riak memercik di dahi: “aku melihat raut bintang remang.”

“Sapulah air mata kita kembali ke huma
pondok kecil dan bara menyala
menyalai sehiris daging puyuh.”

Suaramu seperti malam jenuh
seperti arang aku rapuh
menggiringmu tinggalkan telaga
tak ingat daging puyuh panggangmu
menyusup ke huma dan lena: “aku melihat ilalang bergoyang.”

Air mata oh air mata; ia menjelma igauan senja sepanjang malam
seluruh tidur lebur dalam gambar-gambar liar
seseorang menegur dengan kasar: “aku melihat ranjang berdarah.”

“Lenyapkan duri dan sangsi
kita berjalan malam ke hulu
menunggu mata air air mata
hingga tumbuh kemboja
lalu kita kembali ke tepian.”

Isakmu seperti giris di pusara
tapi entah bila mulut berkata
aku bersandar di batu dan berdusta:
“aku melihat bintang di kakimu
masih dengan remang asalnya.”

SMAHADZIR
25/3/2005


Tiada Lagi Lupa Daratan

Sungai sempit, nelayan menghentikan dayungan,
sampan teroleng dipukul alun,
membalun tebing, air berkocak,
langit bergemuruh ditatap resah,
awan bergumpal gelap pekat,
hati nelayan merengap hebat,
mengharapkan Tuhan,
menurunkan tangan-Nya,
meluruskan lekok sungai berbatu,
agar kayuhan jadi mudah,
sampan terarah ke pulau impian.

Sungai lurus tanpa batuan,
tebing damai rerumputan hijau tenang,
nelayan bersenandung riang,
lupa daratan, alpa kesempitan,
Tuhanku, mohon ampun ke hadrat-Mu,
dosa lalu, Kau terima taubat,
Engkau pelita hidup,
sempitnya sungai berliku,
batuan tajam ternganga menunggu,
tiada lagi sendu,
sembah sujud pada-Mu,
Kau berikan segala senang dalam pendayungan,
sampan nelayan terdampar di pulau bahagia,
tiada lagi lupa daratan.

SMAHADZIR
12/10/2005


Kau Basuh Wajahmu Dengan Embun Dari Relung Hatiku

Pagi indah, waktu tepat buatku faham tentang langit-langit bilik yang penuh lukisan air dan debu-debu. Hari ini bagi musim semi, dan akan kupintal benang hari ini seperti kupu-kupu yang hinggap di belakangmu - yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Aku tidur hanya sepicing. Semalam telingaku bergerapak ketika bintang-bintang jatuh bertaburan di gerbang subuh. Sesuatu meletup-letup dalam dada begitu kuat setelah kukucup tanganmu bagai kawah merah penuh bara ghairah.
Ketika kau sandarkan tubuh di padang pundakku.

Waktu kusibuk dengan langit-langitku pagi ini, mungkin kau masih memetik bunga-bunga di taman mimpimu untuk kita rangkai jadi jambangan serasi dengan susunan jiwa. Bawalah jambangan yang banyak bunga, hingga keranjangmu sesak seperti dadaku.

Di meja kecilmu sudah kuletakkan sekuntum bunga kenanga yang kupetik dari puncak malam, ke dalam jambangan bunga kesayanganmu, juga secarik tulisan ini yang kusandarkan padanya. Semoga aroma secangkir kopi pekat hitam ini gesit menggugahmu, lalu kau basuh wajahmu dengan embun-embun yang kuraup beberapa tangkup dari relung-relung hatiku.

SMAHADZIR
5/12/2005

Kukirimkan Pesan Kepada Seekor Anjing

Diam bukan kerana hening dan tak sanggup bingar
kerana tak mampu bersuara
menanggung bungkam sejak rahim merejan keluar
tapi matanya adalah mulut
dengan sorot bak suara ingin sampaikan bahasa

Anjing itu bisu
sejak lahir berlidah tapi tanpa suara
jantan tapi kala sampai umur nanti
tak akan mampu pikat cinta dengan suara
yang berharga adalah kala setia untuk hidup
dalam dunia binatang
bisu sakit menakutkan

Matanya adalah mulut
sorot mata adalah suara bahasa
tapi apakah bangsanya faham dengan bisunya?
tidakkah mudah dimangsa, ditindas dan dibinasakan?
tapi setiap pagi kulihat anjing itu
berlari kecil jalan depan rumah
dengan gagah tanpa luka dan sorot mata geman
anjing bisu tidak bertuan
kedana namun sosok tegar
suatu pagi kala anjing itu melintas depan rumah
berhenti seperti biasa
memandang halaman dan rumah
dengan lirih kukatakan;
“baik kukirim saja pesan ini kepadamu
terserah akan kau sampaikan kepada siapa
bangsamu atau bangsaku
yang boleh bersuara atau bisu sepertimu”
anjing itu terdiri tenang
kemudian berlalu lenyap di selekoh jalan

Esoknya tak kulihat lagi anjing itu melintas
seminggu kucari di sudut perumahan
sehingga lorong-lorong kota
anjing itu lenyap; mungkin sesat atau mati

Dua purnama berlalu
suatu petang ketika melintas jalan depan rumah besar
kulihat anjing itu bermain dengan gadis berambut panjang
penghuni rumah, sejenak berhenti merenung jalan
menatapku lembut dua sorot matanya
bening berbinar, kemudian terus bermain
berlari dengan gadis berambut panjang
aku terus langkah;
-       nikmati tiap ayun langkah
-       nikmati petang beranjak senja

SMAHADZIR
6/12/2005

Bersama Lonte Suatu Malam

Waktu lonte menggoncang kepalaku,
aku jatuh longlai di kakimu,
tubuh tinggi lampai,
dengan pening yongyat separuh masak,
entah berapa kali dituai,
kutatap matamu yang gelisah,
seperti tubuhku yang nanar,
malam itu,
berlimbah debu adalah kehidupan kita,
hingga kau bertanya,
bila ini akan berganti,
engkau masih muda,
jawabku.

SMAHADZIR
7/9/2005

Zuriatmu Adalah Anak Panah Yang Meluncur

Zuriatmu bukan hakmu,
zuriatmu adalah puteraputeri yang rindu pada diri sendiri,
dari rahimmu mereka lahir namun tidak dari peribadimu,
mereka ada di rumahmu tetapi bukan milikmu,
berikan mereka kasih sayangmu,
tapi jangan sogokkan bentuk mindamu,
sebab mereka ada buana fikir tersendiri,
wajar kau berikan istana untuk raganya,
tapi bukan untuk jiwanya,
sebab jiwa zuriatmu adalah penghuni istana masa depan,
yang tak dapat kau kunjungi,
kendatipun dalam impian.

Kau boleh berusaha menyerupai  zuriatmu,
tapi jangan buat zuriatmu menyerupaimu,
sebab kehidupan tak pernah berjalan ke belakang,
juga tak tenggelam dek masa silam,
kaulah busur dan zuriatmu adalah anak panah yang meluncur,
pemanah tahu sasaran bidikan keabadian,
dia mencabarmu dengan kekuasaannya,
hingga anak panah meleset jauh dan gesit,
meliuklah dengan sukacita,
dalam rentangan tangan si pemanah,
sebab dia mengasihi anak-anak panah,
yang melesat laksana kilat,
sebagaimana juga dikasihinya,
busur yang mantap.

SMAHADZIR
4/7/2005


Rantai Putus

Alunan kisahku mengalir begitu deras,
memaksa lirih perih tak bertepi,
syahdu aku seperti dulu,
kini mulai tak terdengar,
mungkin dibawa arus kenistaan yang bergumul,
atau mungkin mati terkikis pasir-pasir menderu,
titik embun mulai mengering tidak lagi patut untuk dipuja,
apakah aku tidak lagi seperti itu?
begitu aku; kaku, rapuh, bias bayang malampun berputar pagi,
terperangkap terlalu dalam,
terhanyut seperti sampan tak bertuan,
hendak ke mana aku ini?
mata yang mulai letih, hati yang mulai membusuk,
sanggupkah rantai putus ini kutemui?

Sanggupkah rantai putus ini aku jadikan permata,
kujadikan bunga,
kujadikan apa saja yang mampu menyelimuti,
helaian syair yang aku rajut,
perlahan-lahan hiba menghangatkan tubuh,
membakar cemburu, mengoyak amarah,
pahit menjadi madu biar tak terkuak sekalipun,
ketika arah menjadi pecah,
ketika waktu menjadi mati,
sirna berserah bersimpuh rindu,
tulus hati begitu dusta diucapkan,
tidak seorangpun memahaminya.

SMAHADZIR
7/8/2005


Kasut Kulit

Wahai orang besar,
dengan kasut kulit berkilat,
melangkah-langkah,
berdetap di jalan bersimen,
mungkin akan menggegar dirimu juga.

Wahai orang besar,
dengan kasut kulit berjenama,
menekan-nekan,
pasir berselerakan,
mungkin akan menampar betismu juga.

Wahai orang besar,
dengan kasut kulit mahal,
menginjak-injak,
debu berterbangan,
mungkin akan menyumbat matamu juga.

SMAHADZIR
9/4/2005


Meditasi Akhir Zaman

Belantara jadi gersang,
samudera jadi kontang,
pepohonan tinggal ranting, 
bandar raya menjadi puing,
gunung-gemunung tinggal palung, 
lembah dalam padang luas tergulung,
rebah ranap banjaran melambung,
dan langit mengerut,
tanah berlipat tersedut,
ketika inilah firman turun,
tiada lagi senyum,
langit insyiqaq,
buruj berjatuhan,
kita??????

SMAHADZIR
14/4/2005

Pemimpin Berkuasa

‘Pemimpin berkuasa, apa mahumu?’
kepala tidak pernah tunduk,
mencabar angkasa,
serupa granit atau besi berkuasa!

‘Pemimpin berkuasa, apa mahumu?’
kepala mendongak:
‘aku ingin segalanya!!!’
meneguk samudera melahap bumantara,
haus terasa tidak usai dahaga,
‘kau rasa, jatuh itu tidak menakutkan?’
‘tiada yang kutakutkan,’ katamu,
ya, kulihat mata kosong,
menatap udara.

SMAHADZIR
19/9/2005


Perempuan Tenggelam

Perempuan yang tenggelam di perigi senja,
ia haus,
ia bersenandung dengan lidah sakit,
dan bernanah hingga di hujung jantung hati,
yang parah hingga terobek sukma,
sehinggakan rokib dan atid tak tergamak mencatat,
setiap ketar suara,
setiap gigil kata,
yang bertingkah dari masa silamnya yang koyak,
izrail pun terkaku terjelu,
lalu berdoa ditugasan terakhir,
jangan biarkan ia tenggelam.

Gebar-gebar bahagia mengintai,
lalu bersembunyi di sebalik dinding harap,
selimut-selimut cinta mengepung,
namun sirna di ambang masa,
menidurinya dengan kelembutan dan manis kata,
janji semalam; usah bimbang, usah curiga,
bergema suara menyambut,
kosong, lampung,
tidak pernah bersahut.

SMAHADZIR
13/4/2005

Sabarlah Malaikat

Ketika sabda nabi dan firman Azzawajalla,
tersepit di layar tivi yang menyala,
dan bising slot iklan merajalela,
kala itulah semarak alpa,
merasuk dada dan kepala,
hilang pahala, tertebar dosa,
tanpa dapat diseka.

Ketika pesanan sufi dan petua para wali,
terhimpit di celahan nafsi,
dan bazirnya rezeki
terbuang tanpa dinikmati,
kala itulah semarak murka Ilahi,
sahabat ijajil hakiki,
ramai duafa yang tidak peduli,
hanya untuk sesuap nasi.

Bersabarlah, malaikat kami,
jangan gesit mencatat segala peri,
perbuatan tangan dan niat hati,
biarlah segala dosa-serakah ini,
tidak dibawa ke mati.

SMAHADZIR
5/9/2005


Songsang Kitab Sepasang

Kita sepasang kitab,
terbuka tapi tak saling baca. 

Halaman kita makin buram,
dan kita merasa yang tertulis di sana adalah firman, 
kita lupa tangan yang menulis pada kita,
adalah tangan yang sama, 
kita lupa sabda yang sampai pada kita, 
adalah sabda yang sama,
kita sepasang kitab yang lupa,
ingin saling menghapus nama,
padahal sejak mula, 
namaku tertulis di halamanmu,
namamu terpampang di halamanku.

SMAHADZIR
12/12/2005

Puasa Depan Televisyen
(mengenang ibadah puasaku tahun ini)

Kala siang berlapar dahaga,
di tabir malam, mendekatlah, menyilau kaca bercahaya,
antara tarawih dan doa, bertabur hasrat dalam minat,
di saluran drama ada fatah amin dan nelofa,
juga otai masih berbisa dan dangdut,
mereka semarak impian yang ghaib,
cagun ajaib di moniter kaca,
di hujung malam, di pinggir subuh, di bibir suria,
ia terus memikat, terus mengikat, tanpa mampu bangkit,
dengan gagah megah acara - waktu sakit untuk zikir.

Lapar dahaga dua belas jam,
pahala beradu bersesakan plot drama dan slot iklan,
siraman rohani sekelip nafas,
pesan guru disepak goyangan penyanyi dangdut,
yang mengapung jadi ratu pentas,
bagaimana memilih ketika sebenarnya banyak godaan,
antara nafsu dan iman,
dan waktu tayangan utama,
kita jadi penonton yang rabak,
pahala yang terkoyak.

Pahala, seperti sungai, mudah mengalir,
arif menyaring, jernih, sejuk dan bening,
yang ternyata berkeledak dan kohong,
dajjal pun menyebar, alat-alat hibur ditebar,
beranak bercucu bercicit, dakyah menjalar membakar,
rumah-rumah, ada yang tersamar: jalan hidup,
dan ketika mendadak gelap,
kita berfikir menambah cahaya,
tapi sudah lenyap caranya.

SMAHADZIR         
7/2/2005


Berakhir Bermakna Belum Bernoktah

Berakhir tidak bermakna selesai
sewaktu kami menuai makna putih awan
dan emas saujana jasamu
di halaman taman makmur
anak-anak bertingkah
masih mengapungkan awan putih
berarak di bawah rimbun pohon bakti
merenda mekar daun-daun sempurna
pedomanmu payung daunan hijau
menggamit akar aklimu

Berakhir bermakna belum bernoktah
kita duduk dan berdiri, bersama-sama tanpa tara
mengadun warga berbangsa dalam acuan sempurna
melihat jauh ke hadapan hamparan harapan
warna kata-kata
pada mata ketika kamu melihatnya
pada telinga ketika kamu mendengarnya
pada lidah ketika kamu melafazkannya
di situ ada diri berdiri dalam diri
kitalah yang bertandang, menyerah obor bakti.

Berakhir bermakna usai tetapi bukan selesai
kita sentiasa menduga, waktu-waktu lewat
memadam api mengapung awan hitam
sehingga turun hujan mengalir biduk pertiwi
dalam tempias dalam gelora
kita buka kembali diari sejarah
tidak mudah musnah

Ketika ini, awan berarak
menanti hujan semarak
emas batinmu, emas ceriakan
gerak bangsamu

SMAHADZIR
26/7/2005

Di Pucuk Pohon Bukan Cemara

i
Kucing itu seperti kau
perasaan piatu atau sebaliknya
sama saja hati ini seperti rumah asuhan kanak-kanak
yang tak membetahkan dan hanya sesekali
kau ingin singgah

Aku adalah penunggu yang tak ramah
tak pernah ada bekal waktu untuk merawat cinta liar
aku selalu lapar, rakus pada jarak jauh
membuat aku selalu pergi
berghairah

Tak ada daging seremah
atau sisa tulang yang tak terkunyah
tak ada kuah tumpah
hati ini taman bermain terbengkalai

Rumput sudah tinggi
di situ aku suka sembunyi
bersama seekor tupai liar
dan kau tak akan datang sebagai perambah

ii
Matahari itu aku kira adalah pakej kilat
kiriman rutin dari pejabat Tuhan
mengirim semacam ucapan ‘selamat pagi’ ke bumi.

Aku tak mahu terlambat menjawab
tapi jangan cepat pergi ya matahari
Tuhan sudah tahu jadual hari cutiku bukan?
hari ini aku sedang mencuci
hari yang kusut
cinta yang kumal
hati yang kotor ini sumpahan pejabat.

Mesin cuciku
tak membilas sempurna, kau tahu
kau tahu, sabun cuciku buih keringatku

SMAHADZIR
5/7/2005


Rama-rama Putih dan Senja

Berjalan tepi pantai
genggam tangan yakin
buih menyapa
ombak menari molek
burung pantai bersahutan
menambah makna sebuah kehadiran
rama-rama putih terbang kian ke mari
melukis sebuah keindahan dalam senyum
dalam degupan nafas
aku ada dalam tegar langkahmu

Inikah damai
sejak dulu tersayat terpuruk atas kasih
inikah jalan indah
ketika aku hilang makna sebuah tegar
seketika kita pejam
dalam hati ingin ucap seribu kata
tentang makna kasih
tentang makna matahari terbenam
kasih terlukis dalam kanvas putih
merah semerah darah suci sesuci matahari
seketika badai dan takut datang
hanya ada kau di samping dan aku cakerawala
kucabar badai kugubah pelangi gelap dan ngeri
jadi sebuah fajar
dan rama-rama putih
menghapus letihmu dengan indahku
hingga kau temui tegar impian
aku berusaha terbaik untukmu

SMAHADZIR
12/9/2005


Aku Lebih Menyukai Kau Yang Patah

Rumputpun kembali bersemu hijau
kala air tercurah membasah jiwa kering kontang
segersang hatimu, kawan
apa kau cari dalam diriku?
pelangi tak pernah pudar di matanya
untuk itulah kita harus tetap tegakkan wajah
kerana matahari tak pernah memilih untuk menyapa

Apa kau cari dalam diriku?
kau dendangkan keputusasaan lewat bibir hitammu
nafi semua yang telah kita lalui
sepasang kulimbangbang mematahkan sayapnya

Apa kau cari dalam diriku?
matamu mengatakan semua kawan
namun aku tak ada sayap lain untukmu
kerana aku lebih menyukai kau yang patah

SMAHADZIR
4/8/2005

Pada Bening Matamu

Pada matamu yang bening,
tahajud daun-daun,
kuinsafi dalam luka dan batu-batu,
bunyi guruh meluap dan membutakan diamku,
bau hujan seperti berahi musim,
menggeram dengan kapak dan sekalian palu,
dan ketika kilatan petir memecut,
membakar langit dan pohon randu,
seperti radang kesunyian melesatkan bara,
dan tombak unggun,
ribuan anggur kureguk,
lewat geliat gelubat kabus memeriahkan sedu,
seperti peronda kota yang selalu bertanggungjawab,
setiap hening dan lelehan salji,
dari setiap sakit yang tak mampu disembuhkan,
atau kudeta panjang yang bergerak lambat,
seperti kristal nafasmu.

Tapi belati rindu adalah genangan darah mengombak pada bibirmu,
memerah seperti gincu,  meledak seperti ratusan peluru,
akar membasah,  tapi waktu seperti kemaluan,
bumi rapuh.

Kini, akupun mencapai,
kebeningan kelabu dan jejak kaktus merancak,
menusuk kakiku,
kubiarkan setiap pesta angin,
mengajarku bercakap dengan ratusan bangkai atau patung,
patung batu,
mengajakku senggama di samping ambalmu,
mengikhlaskan seratus pembunuhan seperti permainan marak,
dari cahaya dan kepompong embun:
tempat di mana sajak bermula dan para pejalan,
menyaksikan bendera dikibarkan seperti gelombang rambutmu.

SMAHADZIR
9/9/2005

Seruling Malam

Seharusnya kutiup kau malam itu
dengan tembang semangat
liriknya panggilan jihad
mendayu ke puncak awan
agar orang-orang terbunuh
bangkit semula dari kematian
untuk meneruskan perjuangan
sekian lama diam dan bungkam

Seharusnya kutiup kau malam itu
dengan nyanyian syahdu
senikatanya aksara rindu
agar mayat-mayat dikubur tanpa nisan
menguak tanah merah hitam
lalu keluar menerjah alam
dan merangkak perlahan ke rumah syaitan
sekian lama memuja kekasihnya
setiap malam

Seharusnya kutiup kau malam itu
supaya mereka cedera mampu berjalan
lalu ke masjid dengan tubuh berlubang
berdoa dengan darah di mulut
sehingga tidak ada suara terluah
selain bunyi kebencian meruah
sekian lama mendidih dalam darah
kerana penjajah

Seharusnya kutiup kau malam itu
dengan senandung mimpi
melodinya belaian bidadari
bercumbu rayu hingga ke pagi
agar orang-orang merindu
terus segar semula dari layu
untuk meneruskan bulan madu
sekian lama membara
dalam mesra

SMAHADZIR
4/6/2005

Tuhan Kehilangan Kawan

Sahabat, apalah yang kau kesalkan
Tuhan kehilangan kawan
kerana kebenaran dihina
jangan kau ragu dalam perjuangan
- kadang-kadang kawan jadi lawan
- kadang-kadang lawan jadi kawan

Apalah disedihkan hati
para pejuang selalu kekurangan
jangan sedih selalu tersisih
bukan kau saja ditimpa malang
lihatlah para rasul mulia
lebih tersiksa dan menderita
tetapi mereka merasai ramai
walaupun keseorangan
mereka memadai dengan Tuhannya
itulah kebahagiaan sewaktu sempit seorang diri

Sahabat, apalah disedihkan hati
- mereka bahagia dalam derita
- mereka kaya dalam papa

SMAHADZIR
9/8/2005


SAJAK-SAJAK EIKA 2005- UNTUK SIMPANAN

Selamat Malam Kuala Lumpur
Eika – Januari 2005

Selamat malam Kuala Lumpur,
lampu neon bergemerlapan,
bak perhiasan janda berhias,
melenggang-lenggok mengatur langkah,
menyelusup ke lorong pengap berdebu,
udara panas, membahang membakar,
seperti panas persaingan mencari penghidupan,
orang bersesakkan dalam bas,
meredah haluan rezeki berlimpahan,
kadang-kadang cabuh dek maruah luruh,
orang berdiri di pinggir jalan
dengan peluh meleleh sekujur tubuh,
kereta-motor terjebak sesak,
banyak kenderaan banjir di sini,
apa khabar warga asing;
Bangladesh, Indonesia, Nepal, Pakistan, Afrika, Thailand, Burma, Vietnam,
negara kaya melimpah kemakmuran,
bumi bertuah rezeki meruah,
Kuala Lumpur berenang dalam selokan hanyir,
suara menjerit dengan peluit dan klakson,
enjin meraung membingit,
pemandu menyemarak penipuan.

Panas sekali udara di sini,
seperti membahang persaingan politik,
untuk kuasa menjatuhkan,
orang berdesakkan, siku-menyiku, tendang-menendang,
berebut mendekati pusat kekayaan dan singgahsana,
jelma menjadi gelombang percaturan,
sebahagian menjadi bidak catur,
dan anjing yang gila menyalak.

Selamat malam Kuala Lumpur,
aku kepanasan dalam pelukanmu!

Istana Kuning Emas Bandar Temasya
Eika – Januari 2005 

Istana Kuning Emas Bandar Temasya,
mentari menari di celah pahatan merbau dan cengal,
menyelinap ke rasuk bata dan batu-batu sungai,
mengungkap rahsia siluet tubuhmu, lekuk-lekuk mempersona,
berukir molek berseni dari minda rakyat peribumi,
gagah langkah menapak singgahsana takhta,
raja dan permaisuri berdaulat,
menjunjung kuasa memerintah negeri,
pada relief, kesetiaan rakyat terpahat,
tanpa batas istirah, sepanjang hayat.

Batu-batu terhampar di pelataran,
padang hijau, kolam mandian dan taman bunga,
kampung dan pokok kelapa,
rumah Melayu tradisi terpacak megah melengkungi,
memagar gagah pekarangan istana berdaulat,
kini bukanlah reruntuhan, tapi jejak hidup, huruf-huruf,
terurai dari kalimat takjub tak akan lenyap,
bongkahan prasasti akan selalu temui di hati,
walau seribu tahun terkubur diselimut sepi,
Istana Kuning Emas Bandar Temasya tetap kukuh berdiri,
lambang kuasa raja berdaulat memerintah negeri,
agung penuh kesetiaan lestari,
rakyat peribumi.

Permaisuri dan raja mencatur gerak negeri,
diagungkan dirimu dalam sebuah arca kencana,
seluruh kerajaan dinobatkan hanya untukmu,
berulit segala kesetiaan, kesedaran,
bukan paksaan tapi lahir dari keyakinan,
negeri berdaulat, tanah berkat,
kampung halaman makmur tersebar,
limpah kurnia meruah rezeki bertabur,
berkat pentadbiran ke bawah duli tuanku,
satu istana kuasa kemerdekaan,
seribu teras merbau dan cengal kasih abadi,
bata dan batu-batu sungai mendakap erat cinta sejati,
untuk negeri, ibu pertiwi.

Istana Kuning Emas Bandar Temasya,
tak akan lenyap diserap bahang mentari,
dalam kasih dan cintanya bersemi,
dalam setia dan dirgahayunya abadi,
kejap takhta dalam pelukan singgahsana,
raja dan permaisuri berdaulat,
menjunjung kuasa memerintah negeri berkat,
pada rekabentuknya tersergam adat bangsa keramat,
kesetiaan rakyat kukuh terpahat,
tanpa batas kudrat,
sepanjang hayat.

Keris Pusaka
Eika – Januari 2005

Mengapa senapang dan mesiu moden terhunus
sedang aku hanya ingin merdeka
membiar ranting derita
patah di tepian samudera
kerana kau memaksa bertahan atau mati
dengan mengirim ratusan bom
kau ledakkan di kepala
aku terpaksa membela diri
demi maruah dan harga nyawa.

Pesawat pejuang jatuh berdentum
ditusuk keris pusaka
kupasakkan dari sebalik kubu kecil
semangat merdekaku tak pernah runtuh
atau terkandas di batu cadas
tanah moyangku panas
terus menggelecak dengan semangat juang
biar nyawa berketai luluh daging diseligi terkucai
seluruh jasad berkecai
tanah moyang tergadai tak sekali.

Hanya keris pusaka
aku akan lepaskan tanda setia
pada nusa tercinta
sehingga aksara merdeka
kemerlap di puncak nusa.


Malam
Eika – Januari 2005

Malam menjelma,
memberi salam di pintu kamar,
mimpi silam bergentayangan,
terpampang di layar memori,
pelbagai warna menabiri ceritera,
airmata jadi kesalan,
kisah purba hitam berjelaga,
menampal kanvas diri,
angin bagaikan terhenti,
tasik bagaikan kering,
awan hitam gelap di angkasa,
berulangkali berbelok arah tanpa jelas,
kadang-kadang berputar atas kepala,
titik hujan jadi meradang, berjujuhan,
memental warna dedaunan kuning di hamparan pilu,
sesekali angin berhubub sayu,
sayapnya seperti mahu luruh,
melayang, berputar, tergeletak bisu,
di bawah dedaunan hijau berkilau tergantung kaku,
merangkul kisah purba dengan pelukan insaf.

Malam menjelma,
desir hujan angin luruh,
tersenyum kala menimpa batu,
aroma riak hutan,
dingin menyelusup sebalik ari-ari,
satu nafas, denyut nadi, detak jantung,
dalam gelombang hujan melebat,
dosa perlahan menarik kaki ke pusaran masa,
lenyap di permukaan insaf,

hening kembali merayap dalam jiwa beku.

Perbualan Di Sebuah Perahu Dengan Ayahku
Eika - 26.2.2005

Kami mendayung perahu; tahun berhiaskan putih asa dan merah darah. Aku bertanya: Apakah yang sanggup mengubah luka jadi za’faran yang membekukan airmata menjadi kristal zabarjan?  Ayahku berkata:  Waktu! Hanya waktu yang mampu.

Kulihat kiri-kanan; pohon memudar, bangunan kaca meruncing, tahun yang melencun peluh dan bah rancangan dan aku bertanya: Apakah penat kami sudah berbayar oleh lidah janji? Apakah kemajuan sama dengan kebajikan? Ayahku berkata: Hati! Hanya hati yang tahu. Kadang-kadang perahu ini bergegar dan bergoncang, tahun yang terasa garang dan menggaring dan aku bertanya: Mungkinkah kami tersesat dan hilang arah? Mampukah tempat berpijak ini goyah dan terus punah? Ayahku berkata: Doa! Hanya doa yang kuasa.

Gerakan perahu ini panjang kami lalui sudah, tiada hujung kutangkap, tiada awal kukelih dan aku bertanya: Akankah kami bertahan? Sebagai negara, sebagai Islam, sebagai bangsa, sebagai manusia? Ayahku berkata: Fahami lautan tempat perahu ini belayar, kenali kekuatan waktu, dalami pengetahuan hati, selami kekalnya doa.

Gebar kabus menyelimut perahu dan ayahku menghilang meninggalkan gugusan pulau tak berjudul dan samudera tak bernama namun di sini aku menganyam waktu, memerah hati dan membina dermaga doa, demi perahu ini sebahagian kami mati, sebahagian bertahan hidup. Aku bertanya: Inikah kedaulatan sesungguhnya? Sewaktu manusia bersatu dengan apa yang mengelilinginya, samudera waktu, hati, dan doa; iapun merdeka, sebuah bangsapun merdeka, negarapun layak ada


Eika
26/2/2005

Lasykar Hitam Putih
Eika – Februari 2005

Lasykar putih dipandang buruk,
mencelah antara ribuan lasykar hitam,
putih adalah hitam yang telah luruh,
luntur dalam geseran masa dan lebur dalam kawah usia,
begitu kata lasykar putih,
yang tiap hari minta dipakaikan seragam hitam.

Lasykar putih dari rejimen kematangan,
mendesak agar lasykar hitam dienyahkan,
lasykar hitam dari rejimen kesuburan,
mendesak agar lasykar putih dilenyapkan,
antara putih dan hitam; dua kuasa jadi dilema,
dua warna dua sempadan rejimen usia,
pagi dan senja.

Suatu ketika; lasykar putih menyerang perkhemahan hitam,
platon hitam terancam dan segera meneguhkan barisan,
pertempuran dua lasykar,
cuba menguasai daerah usia,
hingga akhirnya seluruh mandala dikuasai lasykar putih,
menang dalam gelanggang fitrah,
menang dalam arena hakikat,
menjadi penguasa batalion senja.


Mereka
Eika – Mac 2005

Di sini hanya dicari kematian,
kemenangan di sisi Azzawajalla,
sewaktu manusia tertidur dalam kehangatan gebar lunak,
daging-daging saudara Bosnia,
dalam kesejukan atap-atap runtuh Chechnya,
dalam kelembutan kehormatan wanita Rohingya,
dalam mimpi indah tanah anbia Palestin,
dalam buaian dongeng rakyat Iraq,
mereka merayap mencari mati,
mereka tidak ingin tidur,
mereka takut kesenangan dunia,
mereka takut ditimpa alpa,
menjadi tamak pada kesenangan fana,
pada kesombongan, pada kepalsuan,
mereka haus darah pendusta agama,
mereka laparkan darah musuh durjana,
laungan kesakitan saudara segama,
kekalahan tanah-tanah saudara seagama,
kerugian dan ketakutan saudara seagama;
semua itu menjadi penghibur,
penghibur kesepian, pengisi waktu di medan laga,
sebelum mereka bertemu Rab Pencipta,
sembari membawa panji-panji kemenangan.

Mereka yakin Azzawajalla penuhi janji,
mereka yakin Al-Quran benar adanya,
mereka yakin sabda Rasulullah nabi-Nya,
mereka yakin Islam selalu berkibar menyebar,
menjadi terbenar,
setiap titis darah mereka,
adalah janji syurga dan kemenangan akhirat semakin dekat,
setiap titik keringat menitik,
adalah keyakinan membersihkan tanah Islam,
telah dilumur najis dan tapak-tapak kaki musuh,
pekikan mereka adalah kidung-kidung suci,
mengagung teragung, Allah Maha Mengetahui.


Resepi Bahagia
Eika – April 2005


Resepi bahagia diramu tepat,
dibaur lemak masin gurau,
dimasak di periuk masa,
diaduk hambar tawar sengketa,
diaduk di cangkir senyum tawa,
di bawah sejuk dingin kata-kata,
dilapah di kolah setia,
ditampi di badang mesra.

Resepi bahagia diadun teliti,
dibaur masam manis jenaka,
di kawah senda,
diaduk pahit kelat pelukan manja,
di kuali mesra,
di bawah garing api derita,
diredakan sejuk setia,
di loyang cinta.

Resepi bahagia terhidang cantik,
jadi sajian enak sekeluarga,
sepanjang usia,

hingga ke dapur senja.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

ASMAUL HUSNA