Isnin, 15 Mac 2010

Bergayut Di Sayap Bidadari

(Cerpen ini telah disiarkan dalam majalah Dewan Masyarakat terbitan Karangkraf Sdn Bhd dan telah diantologikan dalam Memori Suatu Ketika)

SYED MAHADZIR SYED IBRAHIM

SUATU ketika, pernah ada bidadari datang di kampung kami. Turun dengan cahaya tali malam yang melengkungi langit dan bermula pada cakerawala. Anak-anak remaja kami histeria ketika itu. Mereka yang sedang bermain dengan embun spontan menjerit. “Ada perempuan dengan lengan di sayapnya!” Kami, yang tua-tua pun segera keluar dan melihat anak-anak remaja kami yang telah menari, masih tersisa di kaki bidadari garis cahaya yang putih warnanya. Begitulah pada mulanya.
Dia datang pada suatu malam dan menari bersama anak-anak remaja kami di atas rumputan yang bercahaya oleh embun. Kami tidak tahu bagaimana anak-anak remaja kami segera saja mampu meniru geraknya: Meliuk di punggung, menjejak bumi dengan tumitnya, mengepak tangan laksana mega. Tapi itulah yang terjadi. Dan dia tidak hanya menari saja. Dia sentakkan sayapnya yang menyerupai selendang untuk mencipta bunyi. Dan bunyi dipungut angin dibawa ke lereng-lereng bukit dan dipantulkan dan bersuit di antara daun bambu, pohon pinang dan batang ilalang, menciptakan gema yang bertalu seperti bunyi tetabuhan. Dan sayap yang putih itu, yang seperti garis kabut menjadi cahaya yang berpendar-pendar laksana kilat dalam liukan-liukannya. Berpendar di kelopak embun, berpendar di keringat dahi, keringat lengan, keringat bibir, keringat telinga dan saling berpantul. Berpantul. Dan saling berpantul.
Tanah lapang itu jadi bermandi cahaya putih. Cahaya putih yang lebih putih dari putih. Cahaya putih yang bermula dari sayap bidadari yang terpantul keringat dahi, terpantul keringat lengan, keringat leher anak-anak remaja kami. Terpantul ke rumputan kerana embun. Ke daun-daun murbei, daun-daun angsoka, kenanga. Dan anak-anak remaja kami terus menari. Bidadari terus menari. Rumputan ikut menari. Pohon-pohon palma menari. Sampai dini hari.
Lalu lintang luku itu melempar cahaya. Memercik di angkasa. Saling bersilang dan bersabung. Sesaat anak-anak remaja kami berhenti dari menari. Kami yang tua-tua cemas menatapnya. Percik cahaya itu sesaat reda dan sunyi yang dilahirkan segera diisi siulan angin dari arah cakerawala. Siulan yang terus menggema dan semakin menggema dan mengurung kami. Mengurung dan berputar-putar mengelilingi tanah lapang kami. Anak-anak remaja kami berhenti menari. Kami yang tua-tua cemas menanti.
“Tidak apa! Itu hanya pertanda aku harus pergi!” jelas bidadari sambil menari sendiri.
Bidadari itu pun kemudian mengepak sayapnya. Bunyinya bersiut, bersahut dengan suara angin yang bersiul. Bersahut. Dan bersahut-sahutan. Menjadi sebuah orkestra dari semacam ribuan denting logam yang bersentuhan, yang terpercik seperti suara hujan. Hujan dari logam mulia yang berdentangan, berdentingan, berdentang-denting. Ringan, lincah dan ceria.
“Ayuh, menari lagi!” ajak bidadari.
Anak-anak remaja kami pun menari lagi. Melenting-lenting. Sambil bertepuk tangan. Tangan yang menggapai langit. Memeluk kawan. Mengganding malam. Bidadari mengembangkan lengannya. Mengembangkan tangannya. Anak-anak remaja kami pun meniru.
Bidadari menghulurkan sayapnya ke udara. Menurunkannya, melebar. Anak-anak remaja kami mengacungkan lengan. Menurunkannya. Bidadari berputar. Anak-anak remaja kami berputar. Suara berdentang, berdenting, semacam hujan logam mengiring. Bidadari masih berputar. Terus berputar. Berputar-putar. Hingga tinggal cahaya putih. Cahaya putih yang berputar bagai kabut dinihari. Dan kabut itu meliuk-liuk seirama suara dentang, suara dentang dari sayap yang berputar, suara dentang dari siul angin yang mengambang.
Dan suara itu menghilang bersama kabut putih yang larut perlahan terhisap embun di rumputan meninggalkan sunyi yang hening di atas tanah lapang.

* * *

“Apakah dia akan datang lagi kepada kami?”
“Aku suka suaranya yang teduh menyiramkan kesegaran! Lehernya yang seputih angsa begitu indah dirayapi keringatnya yang meleleh seperti sisa hujan di kaca jendela.”
“Tapi matanya sebening telaga. Hijau, mungkin kelabu.”
“Biru kecoklatan!”
“Itu rambutnya. Perang berkilatan dan panjang mengurai.”
“Kakinya yang jinjang. Putih gading. Menyibak gaunnya yang putih salju.”
“Aku ingin dia menari lagi. Juga menyanyi. Aku ingin tidur di lengannya berselimut sayapnya yang lembut.”
“Jika aku bermata bundar seperti matanya, bundar dan biru, dan bening, dengan lentik bulu-bulunya yang panjang...”
“Tapi alisnya mirip alisku. Tebal dan terang warnanya.”
“Runcing hidungnya yang kecil, sesuai benar dengan bibirnya yang tipis dan selalu tersenyum.”
“Dan bulu lembut di dahinya betapa indah di wajahnya yang terang.”
“Keringat yang bermanik-manik di jidatnya, seperti butiran mutiara di pasir putih di dasar laut yang jernih.”
“Kau lihat, sejumlah gemerlap dari gemintang yang berpantulan di rambutnya?”
“Aku suka pinggangnya yang ramping kumbang. Jurang sempit di dadanya terjepit bukit runcing. Dan tubuh itu menggelombang ketika dia berputar. Bergetar seperti ombak yang tenang terdorong angin ketika dia tarikan gerak terbang. Dan gaunnya yang putih terangkat sebagai kelopak-kelopak teratai yang berdenyar-denyar di permukaan kolam yang kerana titisan keringat menjadikannya mirip kuntum-kuntum embun.”
“Apakah kami akan menari lagi bersamanya, bapa?”

* * *

Dan malam belum lagi tiba. Bahkan senja masih tertunda tiba. Petang belum terusir dari langit. Kerlap emas meluas selengkung mata. Tanah lapang itu telah dipenuhi penduduk kampung. Yang tua-tua bergerombolan, muda-muda berjalan kian ke mari seakan merak yang kebingungan oleh banyaknya mata yang memandang, sementara, yang anak-anak remaja kami berlari berkejar-kejaran. Yang membawa selendang menyeretnya di udara, membayangkan diri si ular terbang dengan sepanjang ekor. Mereka menjerit-jerit sesuara helang. Nafasnya sedesis ular. Ada pula yang mengkaok, selendangnya melebar seruas dua tangannya yang mengembang, larinya meloncat-loncat.
Lalu petang tinggal seleret jingga dan cakerawala.
Ada yang mulai bernyanyi: “Sayang... sayang... bidadari datang dari syurga...”
Ada yang menyahut: “Bawa asmara cinta nan asyik....”
Serombongan anak-anak remaja kami berbaris. Di barisan hadapan mengembangkan lengan. Sejerat lendang menelikung ketiaknya, bersampir di bahu menggaris belakang leher. Dua hujung selendang itu dihela oleh tangan yang membayang diri sebagai sais kereta yang menjejak kuda. Di belakangnya anak-anak remaja kami menari, juga menyanyi: “Sayang... sayang... bidadari datang dari syurga, membawa asmara cinta nan asyik...” Mereka berarak dengan punggung yang mengegol.
Ada juga yang bergerombol, menari dan menyanyi; “Sayang... sayang... bidadari datang dari syurga, membawa asmara cinta nan asyik...” Mereka melompat-lompat. Membayangkan diri serupa kijang. Ada yang mengais kaki. Ada yang mengembangkan tangan di pinggang. Kepalanya bergerak-gerak. Mencari. Ada yang membuka telapak tangan. Menempelkan ibu jari sebagai tanduk dan mengibas-kibaskannya.
Debu mengepul. Putihnya serupa kabut pada malam yang mulai turun. Anak-anak remaja kami itu masih saja menari. Menyanyi.
Lalu ada yang menjerit menyentak; “Dia telah datang!!!!!!!!!!”
Semua terkejut. Serempak berdiri di tempatnya. Hanya mata mereka yang mencari-cari.
“Mana?”
“Mana?”
“Mana?”
“Lihatlah debu yang mengepul itu! Perhatikan!”
“Bukankah itu murai yang menari bersama belibis?”
“Dan warna putih itu kan baju belibis yang bergerak, berputar-putar?”
“Lihatlah. Perhatikan baik-baik. Belibis tidak seperti itu baju putihnya. Bukankah itu putih yang seperti basah. Yang memantulkan biru dari malam yang berembun?”
“Hei, aku di sini. Aku menari bersama nuri!” tiba-tiba suara menghenyak.
Semua berpaling. Dan mereka menyaksikan bidadari menari menggendong nuri. Hijau baju nuri, yang bercampur kuning, bercamput jingga menggambar bias pelangi di gaun bidadari.
“Ibu gendonglah aku juga!” jerit melati.
“Aku juga!” pinta seroja.
“Bolehkah aku bergayut di sayapmu ibu?” tanya kenanga.
Dan anak-anak remaja kami itu menjerit-jerit menyuarakan kehendak masing-masing.
“Ayuhlah. Berpeganglah semua pada sayapku, lenganku, bajuku rambutku atau tubuhku!” Dan bidadari itu pun mulai menari. Mulai menyanyi.
“Sayang... sayang... bidadari datang dari syurga, membawa asmara cinta nan asyik....”
Dan bidadari itu pun menari. Sejumlah anak-anak remaja kami di tubuhnya. Ada melati yang bergayut rambut. Kenanga berpegang pada lengan. Seroja berlari berjingkat-jingkat menjejaki berkas putih garis kaki bidadari. Teratai menggerakkan tangannya serupa ombak, berpegang pada pundak. Melur, siantan, mawar, padma, lily, dan entah siapa lagi berbaris serupa ular. Mereka mengikut gerak bidadari sambil berjalan melingkari.
Malam semakin biru oleh hijau daun dan putih bintang. Embun berloncatan dari rumput ke rumput, dari kaki ke kaki, dari rumput ke kaki, dari kaki ke rumput-rumput. Desah nafas berlelehan pada keringat. Senyumnya bahagia mengaliri leher. Mengkristal di dahi. Sealir kali menganak pada bibir bidadari.
“Aku akan ikut menari!” ledak suara dewasa bermata helang. Sigap dia meloncat. Berlari ke tengah padang.
“Hei, jangan kau rebut kebahagiaan anak-anak remaja kita!” ada yang melarang.
“Biarkan mereka bermain. Jangan kau ganggu anak-anak remaja itu!”
“Jangan!”
“Jangan!”
“Jangan!”
Mata helang itu tidak mengendahkan. Dia seperti terbang berlari ke arah bidadari. Disentakkannya melati. Dibantingnya kenanga. Direbutnya bidadari. Dipaksanya menari.
“Aku tidak ingin menari denganmu. Aku hanya ingin menari dengan anak-anak remajamu!” jelas bidadari.
“Tidak, kau harus menari denganku!” perintah mata helang itu.
“Ya, kau harus menari juga dengan kami!” ujar pula lelaki lain.
“Ya, kami juga ingin ikut menari!” tokok lelaki yang lain pula.
“Ayuh, giliran kita menari!”
Mereka, lelaki-lelaki dewasa, berlari untuk menari. Memaksa bidadari. Ada yang cuba memegang sayapnya. Ada yang cuba menepiskannya. Ada yang ingin meraih pinggang. Ada yang berusaha memeluk. Gerak mereka menjadi liar. Yang memegang sayap menggenggamnya erat-erat. Sayap itu robek. Selengan kanan patah. Rambut tercerabut. Gaun tercabik.
Di tepi padang, anak-anak remaja kami memandang muram. Wajah mereka sedih membiru di dahi yang terpelanting, memerah pada bibir yang pecah, mengembun pada mata, tanpa suara, memandang tangan bidadari yang terlempar ke angkasa. Tanpa tenaga anak-anak remaja kami pulang ke gubuk. Membasuh kaki, lengan dan jari. Dan naik ke ranjang, sendiri. Hanya sendiri.
Dan dalam tidur, mereka bermimpi dikeroyok lelaki serupa ayah sendiri. Selepas pagi mereka menemui diri mereka: Ada yang telah kehilangan kaki, ada yang telah kehilangan telinga, ada yang telah kehilangan mata, ada yang telah kehilangan tangan, ada yang telah hilang kepala.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

ASMAUL HUSNA