Isnin, 15 Mac 2010

Embun Dan Matahari

(Cerpen ini telah disiarkan dalam majalah Sinar Rohani terbitan Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM) dan telah diantologikan dalam Insyiqaq)

SYED MAHADZIR SYED IBRAHIM

DENGAN sorot mata kemerahan, Matahari menegakkan punggungnya yang terasa renta. Angin berkibar tanpa bendera. Seakan-akan menyorongkan kemarau yang begitu dalam pada setiap desah nafas sepanjang jalan kemerdekaan, yang menjadi keterbatasan bagi kebebasan pemilik kekuasaan.
Matahari baru mengusap peluh. Ruang kediaman yang bersempadan dengan berbagai impian mengepung sepenuh ‘kemontokan’ yang tidak pernah mampu ditawar dengan apa-apa harga!
Mendadak, dirasanya goncangan halus menerpa dengan lembut pada ketidakpercayaan yang menelikung sekujur belulang. Ruang kamar yang berlangitkan kardus dan dinding triplek dengan ukuran fantastis: 4 X 6 itu, seakan-akan berdiang menunggu bara yang bakal meledak, tanpa memahami penjuru api yang mulai menjalar.
“Tidak ada apa-apa, tapi kami harus memperoleh apa-apa,” tiba-tiba suara Embun menyibak, mengkandaskan berkas kesejukan.
Ketazaman keberlinangan air itu seakan-akan memporak-porandakan kesenyapan yang mengalirkan darah dan air mata dalam kelengangan yang ada. Mahu tidak mahu, Matahari mendongkak. Sepasang kerawanan di balik kelembutan pandangan Embun membuatnya menghela nafas panjang beriringan debur pantai yang tidak pernah selesai.
“Tidak ada yang harus menemukan aku dan saya. Lantaran kami dan kita sudah bukan bahagian dari mereka lagi. Mereka sudah menjadi komunikasi orang awam yang terpecah dalam kehingaran berbagai predikat. Saya mampu aku, tapi aku belum tentu saya. Kita hanya jadi omong kosong dalam kekitaan yang ada, dan mereka cuma penonton yang sama sekali tidak memaknai kewujudan, Mereka telah menjelma sisa-sisa kopi yang melupakan berbagai predikat,” keluh Matahari lirih.
Sang Embun merengkuh erat pundak Matahari.
“Masih banyak dermaga yang bakal menerima berbagai badai, namun selamatkan pelayaran itu sebagai ikrar tidak kunjung padam. Debur ombak adalah kesetiaan untuk kehidupan. Mengapa mercusuar yang kehilangan cahaya harus diperdebatkan?” tepis Embun sembari menggelendot manja dan merebahkan kelembutan nafsu di kedua pangkuan kesengsaraan Matahari.
Kali ini, Matahari menyapu pandang lumat-lumat. Kedua kepala dalam lenguh tertatih-tatih saling bersahutan, menukar keakraban alis mata Matahari yang perlahan menengadahkan bibir dalam keranuman hidup yang dimiliki sang Embun.
“Ah, tepislah. Sudah waktu Embun mulai berlalu,” tukas Embun sembari merenggangkan kemesraan yang hadir. Matahari hanya mampu meluruskan persendian yang terasa rapuh.
“Apa tidak lebih nikmat menyudahi kepalsuan itu Embun,”
Mendengar lenguhan Matahari, Embun mendadak menghentikan langkah. Kepalanya berputar diikuti liukan tubuh nan memukau.
“Kenapa?” tanya Embun pendek.
“Aku cemburu,”
Mendadak kegelapan malam melingkupi penjuru kamar. Bahkan sosok sang rembulan bagai lilin kegelitaan malam hari lenyap dari peredaran. Rembulan padam dalam emosi. Matahari seolah-olah sengaja membakar luka yang mengalirkan nanah dalam dada. Sementara sang Embun dengan tekun menggeriapkan pandangan dengan sorot yang sarat keanehan tanpa perlu dimengerti.
“Mengapa,”
“Tidak selamanya apa-apa mampu menjadi darah,”
“Tapi darah ini menjadi dapur dan dermaga,”
“Ah... apakah tidak ada lagi luka yang sembuh atau pengganti kepul asap dalam setiap persinggahan,” suara Matahari menurun dalam keluh yang panjang.
Dadanya meliuk dalam gemuruh muzik yang tidak pernah dimengertikan. Dendam itu seakan mengalir dari berbagai penjuru dan membenamkan Matahari dalam kekosongan kepala. Sang Embun menggeleng gamang, sebelum kemudian meneruskan langkah dan menutup pintu kamar dalam kesendirian.

* * *

Kepengapan sinar lampu yang bernyanyi, menikam penjuru ruang. Kepala bergeleng diiringi keliaran hentakan kaki seakan-akan merubah berbagai irama tradisi dalam nadi kebersahajaan. Muzik yang bertalu menjadi gambar-gambar hidup dalam siluet kaku penuh kekosmopolitan yang sukar difahami.
Beberapa gerombolan perawan berjoget riang di antara ketersiaan kelelakian. Tidak ada lagi nafas perjaka yang mampu dipertanggungjawabkan. Kemudian kolonialisme uban-uban gentayangan menyeret-nyeret keranda wang sebagai harga kemenangan.
“Joget Mak Enon,” jerit suara perawan yang tertindas.
“Mari anak manis rupawan, peluk erat-erat duniawi,” balas suara yang gamang, sedangkan bebayangan kelembutan keluarga sudah ditinggalkan dalam mimpi-mimpi bahagia.
“Gantian Mak Enon. Kawanan bujang tidak perlu gadis sedang cari mangsa,” gerutu suara dari bahagian dunia di kepengapan ruang lain.
Alasannya tidak bakal tahu geliat kelelakian yang menebar dalam berbagai aroma alkohol. Hanya mendadak suasana kelam itu dihentikan hentakan mikrofon yang menyebutkan dengan bariton padat, memberikan helaan nafas pada pergantian dunia yang ditawarkan.
“Sambutlah penampilan penari Embun, sosok primadona kejayaan duniawi yang bakal membawa syurga dalam kealpaan yang sudah terbiasa,” pekik satu suara yang merebut kegalauan seantero bangunan itu.
Perlahan-lahan, diiring dentum ‘Sephia’ yang meledak dalam dawai-dawai ‘penghancuran irama’, sebuah sosok yang lembut tampil mendedahkan lenggokkan Sekapur Sirih. Dengan mengenakan carikan-carikan kain yang sekadar menempel, kegemulaian tubuh sang penari yang penuh berahi itu mencabik-cabik pesona sekujur pedalaman ruang.
Lewat buaian kelentikan zapin, secara sensasional kelelakian, sang penari secara perlahan mulai membuai kemontokan tubuhnya sendiri. Gesekan lengannya terasa meninabobokkan hasrat yang tertunda dari berbagai desahan ludah yang kembali memasuki keserakan kerongkongan. Lalu, dalam kejauhan erotisme, cabikan kain yang tersisa mulai melucuti diri. Payudara yang awalnya bersembunyi mulai menampakkan wajah asli.
Setagal, penjuru dinding dan keterbatasan langit-langit yang terlanjur terbuai mulai memelototkan berahi yang selama ini senantiasa dijadikan topeng-topeng kekelaman malam. Goyangan sang penari semakin bebal, cabikan kain semakin jatuh, terserak. Keterbukaan semakin menyayat, memaku berbagai kehadiran yang menyaksikan sebuah ketulusan yang sangat jujur sekali.
Hanya dari sudut kerusi yang sangat tersembunyi, Matahari menyeka air mata yang berdarah di antara lekuk pipinya yang semakin tiris. Demi Tuhan, Embun yang telah melampiaskan janji pemakaman dalam ikrar perkahwinan ‘terpaksa’ menari telanjang di hadapan mata orang awam.
“Demi hakikat, kalau hidup memang sudah jadi barang dagangan. Dan aku tidak mampu menjual apa-apa,” ratap naluri yang menggedor sepanjang nurani Matahari.
Sementara, Embun terus saja asyik mencampakkan kebohongan dunia dalam penggal-penggal yang terpatah-patah. Tanpa dirasa kedua kepingan bola mata Matahari meleleh. Kedua pipi memucat dalam lesung pipit kesengsaraan yang tidak mampu ditebus.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

ASMAUL HUSNA