Isnin, 15 Mac 2010

Bumi Ketiga

(Cerpen ini telah disiarkan dalam majalah Sinar Rohani terbitan Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM) dan telah diantologikan dalam Insyiqaq)

SYED MAHADZIR SYED IBRAHIM

AKU tergeragap. Sebuah kilat cahaya telah memecah bongkahan batu besar, tempat aku tidur di dalamnya selama ini. Sukar kuterjemahkan melalui apa pun kamus. Sebab, ia datang begitu cepat, sebelum aku sempat membeli kamus dan membukanya dari halaman ke halaman. Mungkin jika kilatan cahaya itu sudah reda, besok atau lusa, akan kutanyakan pada ahli meteorologi, agar aku tidak terus-menerus kebingungan seperti sekarang.
Paling tidak, hari itu, aku mendapat bahan kajian baru yang selama ini belum terdata oleh mana-mana jabatan pengkajian. Ini adalah pengetahuan baru tentang ilmu bumi. Tetapi aku ragu. Atau inikah yang disebut sebagai peristiwa alam yang akan menghantarkan manusia ke alam baru? Bumi ketiga? Ah, terlalu lancang aku mendahului inisiatif Tuhan. Tetapi…
Plar!! Plar!!!!
Kilatan itu makin menjadi-jadi. Bongkahan-bongkahan batu itu kini pecah berkeping-keping, mejadi berbagai bentuk, yang aku sendiri sukar untuk mengkelompokkannya menjadi satu, sehingga ia terkumpul dalam beberapa etalase, sesuai dengan jenis dan bentuknya; apakah ia batu marmar, batu akik, pualam, intan atau emas dan sebagainya.
Mungkin anaximandros, anaximenes dan ahli astronomi akan segera membuat teori baru jika mereka turut menyaksikan peristiwa menggemparkan ini. Atau bahkan, mereka akan segera membuat ralat besar-besar di berbagai media awam, untuk meluruskan teori kejadian alam yang pernah mereka tulis dalam ratusan buku.
Tetapi, itu bukan urusanku. Semua teori yang pernah mereka cetuskan sudah terlalu lama mendarah daging, sehingga tidak semudah itu untuk menerima kejadian baru untuk disusun menjadi satu disiplin ilmu, atau dirangkum menjadi sebuah buku. Sedang ‘teori’ Tuhan melalui wahyu saja memakan waktu yang tidak sebentar untuk diakui kebenarannya. Lebih-lebih lagi teori mahluk yang tidak mungkin mengungguli keilmuan Tuhan. Mudah-mudahan, dalam satu kesempatan nanti akan kutemui Tuhan!
Gemuruh gelungsuran bebatuan yang terpecah oleh kilatan cahaya itu, makin menggumpal, menggelinding dari perbukitan, menuju ke dataran rendah, tanpa mencari tempat-tempat yang tersembunyi. Seperti daratan kering yang sudah seratus tahun tidak tersiram air.
Bongkahan-bongkahan yang menjadi kerikil terus memapas kilatan cahaya. Secara perlahan, dari pecahan-pecahan yang seakan terburai dari perut bumi, berubah menjadi warna dan panorama baru. Dari ribuan pori-pori yang sukar diukur diagramnya. Itu, terjelma aneka bentuk kehidupan, yang aku sendiri menerka, bahawa aku sedang dalam kebangkitan baru.
Aku seperti terbangun oleh sapaan Tuhan, sama ketika Ashabul Kahfi juga dihidupkan Tuhan 309 tahun terbaring dalam gua. Atau seperti Nabi Yunus yang hidup kembali setelah sekian tahun berada dalam perut ikan.
Oh, kucuba untuk menepis cahaya itu, agar sinarnya tidak begitu menyilaukan. Kuambil sehelai daun kering untuk melindungi sengatan yang makin menyebar di sekelilingku. Aku terus gagal. Kilatan cahaya itu terus berputar-putar bagaikan sinar laser dalam sebuah panggung pementasan. Ia menyorot ke mana-mana, tanpa sedikit pun aku punya kemampuan untuk mengarah cahaya itu.
“Cukup, cukup! Jangan kau hina aku dengan sinarmu!”
Aku makin kewalahan dengan pancaran yang benderang itu. Bermacam tempat kuraih, agar ia dapat tertampung. Tetapi semuanya nihil. Sesekali, sinar itu singgah dalam tempat-tempat kosong. Tetapi setagal kemudian, ia kembali menjalar ke mana-mana, tidak ubahnya seperti udara yang selalu menempati ruang-ruang kosong dalam setiap bentuk. Ia masuk dalam botol, cawan, kotak, kantung baju sampai ke semua lekuk bumi. Tetapi tidak sesiapa mampu menghalangnya. Ia akan terus berjalan bersama udara.
“Tidak mampukah kau berhenti barang sebentar?”
Aku kian kebingungan mencari tempat berlindung.
“Kenapa makhluk sejenismu menjadi bingung dengan kedatanganku?”
Ada suara menggema dari balik cahaya itu.
“Bukankah kalian semua yang mengharapkan aku segera hadir di sini?”
Suara itu terus memantul ke segala arah. Aku menjadi gagap untuk menjawabnya. Sebab, sebelum ini, aku hanya tertidur pulas dalam sebongkah batu besar yang bisu. Seakan, aku sudah berada dalam alam kematian panjang. Seperti tidak ada angin, cahaya atau petir sekalipun yang dapat membangkitkanku dari pusara yang membatu.
Aku makin tidak mampu mengendalikan arah cahaya itu. Ia bergerak sesukanya. Membakar semua kebisuan yang gagu. Dalam sebuah bejana, ia menyatu dengan udara, lalu menjelma menjadi air. Berselubung dalam setiap dengus nafas, membasahi pori-pori bumi dengan genangan keringat.
Menyusup ke lapisan tanah yang paling bawah, memandikan bumi dengan ribuan mata air, melukis permukaan alam dengan kilauan merah. Cahaya itu telah mencurahkan air mata dan darah. Tidak ada yang perlu dipersalahkan. Aduh... aku dan makhluk sejenisku telah berada dalam wilayah itu. Tidak mungkin lagi wahyu turun untuk membuat program transmigrasi ke bumi keempat.
Cahaya, angin dan udara terus menyatu dalam irama yang sama. Air pun terus bergulung di antara kilatan-kilatan cahaya. Aku, dan makhluk sejenisku makin terasa malu atas ketidaksiapan tempat untuk menampung semua itu. Begitu panjang aku terlelap sehingga sama sekali aku tidak pernah merasa terlatih untuk membuat bejana-bejana penampungan, yang mampu menempatkan lautan cahaya.
Bumi pekat. Namun, kilatan cahaya itu tidak termakan oleh kepekatanannya. Ia berjalan, merambah memasuki setiap rumah, yang setiap penghuninya menjadi gusar, akan ke mana cahaya itu diarahkan.
Titik-titik embun terus menggelembung di kening para jiran, menggambarkan ketidakupayaannya menatap kilauan cahaya. Aku hanya menatap hiba. Tidak satu pun yang mampu kuperbuat, sementara cahaya makin menerpa ke setiap raga. Ke setiap bangunan-bangunan bertingkat, ke hujung mercusuar, ke menara pagoda, sehingga ke pojok kampung.
Pagi buta. Petang menjelang, sehingga gelita menggulung siang, aku masih menatap cahaya dengan gamang. Aku mengais cuilan-cuilan kerikil yang tersisa siang semalam. Tetapi yang terpantul hanya goresan luka. Dalam sebuah peta, puluhan, bahkan ratusan wajah kehilangan cinta. Dalam hatinya tertoreh sebuah kata: masih adakah cinta di sana? Tiada sesiapa yang mampu menjawab, desau angin terhantar, hanya membawa bau hanyir darah, dan khabar kematian.
Cahaya masih berada di atas mega. Namun sinarnya takkan terhenti sampai di sini. Ia kini bukan saja menjadi air, tetapi juga duri-duri tajam, pedang, sabit, celurit dan segala bentuk rupa yang makin sukar diterjemahkan dengan logika. Ia terus bergerak, menembus setiap jendela, menghujam pada semua bejana, kendatipun aku dan makhluk sejenisku tetap tidak punya kemampuan untuk berjalan beriringan dengan cahaya.
Entah, esok, lusa dan sampai bila, aku dan kami semua terus berada dalam bumi ketiga yang gagap. Kini hanya satu jawapan; besok sebelum subuh tiba, aku akan berlari untuk menemui Tuhan, dan belajar dari keagungan-Nya, agar aku tidak terus berkepanjangan berasa bodoh berjalan bersama cahaya.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

ASMAUL HUSNA