Isnin, 15 Mac 2010

Hanya Sekeping Poskad

(Cerpen ini telah disiarkan dalam majalah Dewan Kosmik terbitan Karangkraf Sdn Bhd dan telah diantologikan dalam Rien Piranha)

SYED MAHADZIR SYED IBRAHIM

DI SINI, kini aku tinggal! - Lili - Tulisnya. Tidak ada kalimat lain.
Hanya langit biru, serumpun hutan, sebangun kastil, dan atap-atap kilang di latar belakang, sejalan lurus menyilang hilang pada garis pandang berhias ribuan burung putih, karya Erhard Gottlicher: James Ensor’s Funeral – lithograph asli, monochrome, dilukis atas batu. Di pojok bawah, pada sudut sebelah kanan, tertera nama: Kota Sepi Tanjung Seri dalam huruf letter glotic, pada sebalik khabar yang ditulisnya.
Lalu pintu kastil itu terbuka. Loceng berdenyar lapan pagi. Hutan menguning matahari. Dengan blazer tosca perempuan itu tersenyum padaku.
“Kau belum bangun, bukan? Kau memang pemalas, tidak pernah ada pagi.”
“Tapi aku mencintaimu, Lili!”
Dia terus berjalan menyusuri jalan berdebu kecil yang akan menghantarnya ke jalan menyilang. Hentak kaki pada kerikil memeranjatkan burung lalu segera menoleh ke arahnya.
“Selamat pagi, karyawati,” sapa burung-burung putih itu.
“Ini pagi yang cerah untuk berkerja bukan? Kami pun akan segera terbang ke hutan itu mencari rezeki. Tuhan mencintai mereka yang rajin bekerja.”
Dia sampai di pinggiran jalan menyilang. Deru suara bas jelas di telinga. Dia melambai. Bas menyembul dari garis arah jalan yang hilang. Pintunya terbuka dalam kawalan tombol pemandunya. Dia sempat sekilas berpaling padaku.
“Keindahan adalah kehidupan yang sesungguhnya. Bukan sebuah panggung sandiwara, sepotong puisi atau sekisah cerita sastera!”
Dia melompat dalam bas yang menunggunya. Bas itu pun kemudian melaju disusul bas-bas yang lainnya dengan setanda nama-nama kilang di tubuhnya.
“Tapi aku mencintaimu, Lili!”
Bas itu berpacu. Mengecil. Asapnya menghapus jejak gambarnya. Tinggal langit biru, serumpun hutan, sebangun kastil, dan atap-atap kilang di latar belakang, sejalan lurus menyilang hilang pada garis pandang berhias ribuan burung putih, karya Erhard Gottlicher: James Ensor’s Funeral – lithograph asli, monochrome, dilukis atas batu. Di pojok bawah, pada sudut sebelah kanan, tertera nama: Kota Sepi Tanjung Seri dalam huruf letter glotic. Aku terpana.
Diluar malam menggugurkan daun-daun menyiapkan ranjang mati. Hari akan melengkapkan tahun sebelum akhirnya pergi.
Mungkin benar: Hidup untuk memburu hidup. Dunia bukan tempat berbual kosong tapi tempat mempertahankan diri untuk tidak jadi bidai - aku teringat perempuan penjual sate di sudut kota Tenggarong dalam cerita Mira Sato.
Dan kau pun tengah memburu hidup, Lili!
Melewati sejumlah kota, dan kini kau tiba di Kota Sepi Tanjung Seri. Adakah selalu kau kirimkan sekeping poskad sebuah kota di mana kamu berada bagi sebuah masa silammu?
Entah kenapa, Lili, dengan kecut hati harus kuucap: kenangan ternyata hanya perkara yang lucu. Mungkin aku mulai setuju, sebagaimana, N Joaquin: ‘Tidak ada yang lebih penting daripada hidup daripada kehidupan itu sendiri.’
Tidak, tidak juga seni. Tidak juga kesusasteraan. Bahkan tidak juga bahasa. Mungkin aku mulai gentar: Bayangku akan hilang sebelum salju.
“Tapi aku mencintaimu, Lili!”
Poskad tidak berubah gambar, hanya langit biru, serumpun hutan, sebangun kastil, dan atap-atap kilang di latar belakang, sejalan lurus menyilang hilang di garis pandang, berhias ribuan burung putih, sekeping karya Erhard Gottlicher: James Ensor’s Funeral – lithograph asli, monochrome, dilukis atas batu. Aku melihatnya dalam sebuah pertunjukkan sandiwara amatur. Dia muncul dalam gaun hitam yang duka: untuk sebuah upacara pernikahan Perak. Dia menunggu sambil menghitung detak-detik jam. Lalu lelaki itu muncul dalam lelah yang larut. Mereka berpandangan sejenak.
Selebihnya adalah capai yang kesal. Dan pertengkaran itu tidak mampu kueja semuanya. Dia lebih memukau dalam caranya mempermainkan jari-jemari, mengerjipkan mata, mengangkat bahu. Di belakang panggung kami kemudiannya bercakap. Beberapa hari kemudian aku menghubunginya. Seterusnya aku sering mengajaknya berbual. Tapi kami tidak pernah sepakat.
Dan begitulah hari berlalu.
Dan begitulah poskad itu tiba di kediamanku: berhuruf letter glotic, bertera sebuah kota dan petang berkilat di dalamnya. Deru bas itu kembali menyeru. Muncul dari garis menyilang di kaki atap-atap kilang. Berhenti di jalan berdebu kecil dan dia turun. Wajahnya lelah dalam nafas yang lega.
“Berfikirlah. Dan terus berfikir! Untuk memberi makna pada pilihan yang sejenak ini!” dia berpaling dengan selempar senyum yang sinis mengingatkanku pada Descartes.
Langkahnya terjaga oleh kepak yang menyentak dari ribuan burung putih yang tiba-tiba terangkat dari rumpun hutan di latar belakang. Dia menunggu sehingga burung-burung itu mendarati rumputan, mendarati pagar kastilnya, mematuki rumpun bunga-bunga.
“Selamat tengah hari pekerja wanita,” sapa burung-burung itu. “Setelah letih adalah rehat, sebab hidup masih panjang.”
Dan wanita itu tersenyum. Memasuki kastilnya. Menutup pintu. Kemudian senja. Lampu mewarna tirai jendela. Mewarna tirai pintu. Mewarna rumpun bunga-bunga. Sebelum malam membekapkan dinginnya pada poskad yang menggigil di tanganku: Di sini, kini aku tinggal, Lili!
Hanya langit biru. Serumpun hutan. Sebangun kastil. Atap-atap kilang. Jalan lurus menyilang. Ribuan burung putih. Dan di pojok bawah, pada sudut sebelah kanan, tertera nama: Kota Sepi Tanjung Seri dalam huruf letter glotic.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

ASMAUL HUSNA