Isnin, 15 Mac 2010

Bertemu Vladimir Barakovsky

(Cerpen ini telah disiarkan dalam majalah Dewan Kosmik terbitan Karangkraf Sdn Bhd dan telah diantologikan dalam Memori Suatu Ketika)

SYED MAHADZIR SYED IBRAHIM

ANEH kisah ini, kataku dalam hati. Tiba-tiba Vladimir merangkul lenganku dan melangkah lebih dulu.
“Kau peminat sastera, dan Praha menyebut dirinya city of literature, kamu tahu. Saya harus membawamu ke jantungnya. Lihat di sana!” Dia menuding sebuah muzium yang cantik mempesona, bekas tempat tinggal Kafka, tepat ketika aku melangkah ke sisinya.
“Sudah tiga kali aku mengunjunginya.”
“Tapi tetap akan kau temui sesuatu yang baru di situ.”
“Tapi ada banyak tempat lain yang belum kutahu.”
Vladimir sedikit berpaling. Kepalanya yang menonjol, dengan kerut pada tengkuk dan kening, nampak serupa figura-figura perunggu Sang Aya Munoz, jika dilihat dari sisi. Dan matanya, ah, dia pengidap insomnia, pelupuk bawahnya mengendur tanda tidak cukup tidur. Kubiarkan dia melangkah dan terus melangkah. Sengaja kubikin jarak yang cukup darinya, agar aku dapat mengamatinya lebih bebas. Dia berhenti di hadapan sebuah prasasti di mana bergolekan kuntum-kuntum kembang. Lebih tujuh minit, kiraku, dia elus batu peringatan itu dengan pandangan sendu. Kemudian dia membongkok, membetulkan letak kembang yang terserak, lalu berlutut dan menggumamkan entah apa.
Tidak hanya sekali kusaksikan pemandangan seperti ini. Saban hari orang ramai berduyun datang, meletakkan kembang dan berdoa, untuk seorang pemuda yang membakar diri pada penghujung Musim Semi Praha. Tapi, Vladimir Barakovsky melaksanakan upacaranya dengan gaya berbeza. Dia buka botol rakia, dia tuang sedikit ke dalam tutupnya. Sambil mengucapkan keras-keras sejumlah kata dari bahasa Ceko (di telingaku terdengar bagai kredo), tangan kiri mengangkat botol tinggi-tinggi dan tangan kanan mengucurkan cairan rakia ke batu prasasti. Dia melakukan semacam mencurah, kiraku.
Sempoyongan Vladimir menegakkan badan, setangkai magnolia terselip di sela-sela jemari tangan kanannya, “Oh, meski terlambat, saya mengucapkan selamat, kerana komunisme telah jadi fosil di negerimu.” Dia berikan padaku kembang itu. Kutepuk bahunya perlahan sebagai isyarat untuk meneruskan perjalanan.
“Orang tua saya telah mengalami, betapa nestapa hidup di bawah tirai pemerintah komunis. Mula-mula ayah saya yang berpaling ke Cekoslovakia. Ingat, ketika itu Cekoslovakia dan Slovakia masih satu negara. Ayah melihat percik api di sana, melihat harapan. Revolusi Beludru, kamu tahu, juga apa yang disebut orang dengan gemilang, Musim Semi Praha. Kebebasan mulai bersembulan bagai pucuk-pucuk daun. Muda dan bertenaga. Ayah saya ingin melibatkan diri dalam pembentukan syurga baru itu. Maka, secara diam-diam dia tinggalkan nerakanya di Moscow. Kedatangan kami diterima masyarakat di sini kerana ayah ikut berjuang melawan invasi Rusia. Ayah saya percaya, badai salju tidak akan mampu menghalang geliat musim semi. Dan ungkapan itu tidak keliru. Hanya dalam waktu satu kuartal, sejak penjarahan Rusia, seorang pemuda menjadikan dirinya ‘suluh nombor satu’, mengguyur badan dengan bensin dan menyalakan api, demi mengobarkan Cekoslovakia dari ancaman rasa putus asa. Setiap peribadi di negeri ini jadi menyedari, betapa sebagai bangsa, mereka mampu terseka dari peta dunia. Jan Palach pemuda itu, 21 tahun, kamu, saya menghormatinya melebihi ayah saya.” Api jamung agaknya terus menyala dalam diri Vladimir.
“Bagaimana kalau kita cari makan?”
“Oh, Alias Estwo, hari ini saya bukan saja bertemu dengan tamu istimewa, lebih dari itu saya berjumpa dengan seorang saudara.” Vladimir mengangkat botol rakia, “Bukankah kita telah sepakat merayakannya? Bagaimana kalau aku memasak untukmu? Tapi, maaf, saya seorang vegetarian murni. Saya tidak makan keju dan tidak minum susu. Kecuali susu soya, ya. Di rumah hanya ada roti, pai nanas dan strawberry, olive, dan sedikit sayuran. Cukup untuk berdua. Suka sayur?”
“Oh ya,” jawabku bersahaja. Sudah mampu kubayangkan bagaimana rasa makanan yang bakal dia hidangkan. Kurang merangsang. Tapi, selain tidak sopan menampik maksud baik, aku terlalu ingin melihat tempat tinggalnya, ingin tahu gaya hidupnya.
Segera kami tinggalkan plaza, memasuki lorong sesak manusia, melewati kedai-kedai pakaian, bar, tempat pelacur, patung batu seorang negarawan, perempuan gelandangan dekil memangku dua ekor anjing mungil sambil menadahkan tangan mengharap wang kecil, bangunan opera, rumah hiburan penari telanjang, lantas berkelok ke lorong yang lengang, dan dua blok kemudian kami berhenti di hadapan sebuah rumah kusam.
“Sudah sampai,” katanya. Dia membuka pintu dan menyalakan lampu. Dia rogoh sesuatu dari dalam saku jaketnya dan dia lempar ke atas kerusi busa yang telah koyak. Sebuah patung katak. Tanpa mempersilakan aku masuk, langkahnya terus mengertap di atas lantai kayu menuju ruang belakang. Kujejakkan kakiku ke ruang tamu dan seketika perhatianku dibetot oleh sekelompok patung binatang yang bergelantungan di dinding.
“Ke mari, saya ingin tunjukkan sesuatu,” dia mengundangku sambil menyalakan lampu di ruang lain yang pintunya terbuka. Kamar tidurnya. Serakan buku, longgokan pakaian kotor, ranjang bersepai kusut masai. “Lihat,” tangannya mengembang ke sederetan patung binatang yang terpajang di samping dan belakang ranjang. Kucing, arnab, kera, kura-kura, burung, beruang, rusa... Mereka semua adalah bekas kekasih saya.” Ada nada bangga dalam suaranya.
Kuperhatikan lebih cermat para kekasih itu, di leher masing-masing melingkar rantai kertas bertuliskan: Rose, Evaluna, Virginia, Olivskaya, Lauren, Ursula, Tamina, Ivanka, Onile, Nanette.
“Masih berhubungan dengan mereka?”
“Oh, come on. Saya cakap bekas. Tidak ada lagi hubungan. Cukup. Saya hanya perlu sepuluh dan huruf pertama nama mereka harus sesuai dengan urutan yang saya tetapkan.”
Kuamati lagi tiap huruf pertama dan urutan nama mereka: R-E-V-O-L-U-T-I-O-N. Unik juga, fikirku. Kubayangkan betapa rumit menemukan sepuluh gadis yang masing-masing namanya diawali dengan huruf sebagaimana kita mahu, bagaimana menjadikannya kekasih, bila memutuskan hubungan agar mampu berkencan dengan gadis yang punya nama sesuai nombor urut berikut, dan seterusnya.
Gila! Namun, sebelum aku bertanya tentang maksud di balik pilihan dan urutan huruf itu, Vladimir, seakan tahu isi kepalaku, menerangkan lebih dulu. Kali ini dimulai dengan nada datar dan suara gemetar, “Kalau kau hidup di negeri ini, my brother, kau akan senantiasa merasa seperti sedang jatuh cinta. Jantungmu akan selalu berdebar. Darahmu mengarus antara harapan di bahagian hulu dan kecemasan di hilir nadimu. Di sini orang pernah mengagungkan revolusi, tapi di mana pun, revolusi tidak lebih lama berbanding musim berahi. Bergolak, sepenuh rindu-dendam, sudah itu: padam!”
Sejenak Vladimir terdiam. Dia tengadahkan wajah ke lelangit kamar, lalu kembali berujar, “Setelah saya hentikan kedunguan saya sebagai pelukis, saya cuba merenung, mencari ekspresi jitu yang mampu mewakili kondisi negeri ini. Saya melihat setiap orang telah menjelma menjadi patung. Ya, patung-patung yang bermimpi tentang revolusi, yang jantungnya berdebaran antara harapan dan kecemasan. Saya anggap patung mampu mewakili ungkapan saya. Tapi saya berfikir, bagaimana ungkapan itu tetap artistik dan asyik, kerana, bagi saya, seni adalah keasyikan. Dan kamu tahu, saya berjaya memecahkannya dengan keka-sih. Tidak ada yang mengasyikkan melebihi kekasih.” Dia dekati patung-patung binatang itu, dia elus satu per satu.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

ASMAUL HUSNA