Isnin, 15 Mac 2010

Kesetiaan Rumero

(Cerpen ini telah disiarkan dalam majalah Dewan Kosmik terbitan Karangkraf Sdn Bhd dan telah diantologikan dalam Dunia Ketiga)

SYED MAHADZIR SYED IBRAHIM

SUARA itu muncul dari mulut seorang datuk tua di sebelahku. Di antara orang ramai yang semakin berjejal. Menjelang pengadilan hukuman mati di kerusi elektrik X Rumeira. Eksekusi yang berjalan tanpa Paderi, tanpa doa.
“Ssstt, diamlah, bedebah tua. Jangan bicara soal darah buat orang yang sudah mahu mati,” balas orang gemuk di sebelahku. Yang lain ikut menggerutu. Para ibu dan anak-anak masih termangu.
Angin berdesir kencang. Pasir terus terbawa. Berapa ratus butir telah menempel di topi dan seluruh pakaian pengunjung.
“Anakku, mengapa sejarah harus begini,” tangis si datuk tua.
“Sudah aku kata diam. Untuk apa engkau menangis,” ujar lelaki bertopi kulit usang. Kupingku jadi ikut gatal, tetapi bukan kerana si tua itu.
“Engkau tidak tahu yang mana penjahat dan pahlawan. Engkau tidak tahu,” kata si lelaki tua. Suranya tersedak, tangisnya makin kencang. Bulu kudukku ikut meremang. Namun tatapanku masih tidak henti memandang si pemuda yang tertutup kain. Algojo belum nampak. Belum ada terompet kematian, namun suasana sudah terasa sesak oleh perasaan.
“Mengapa kebenaran harus kalah, anakku?”
“Diamlah, haram jadah! Dia pengkhianat,” ujar si lelaki gendut yang bertongkat di tangan kirinya. Dia cacat, tetapi keji. Mirip perompak atau bajak laut yang bertangan kait besi.
“Ssst diamlah, gendut. Kau lebih ribut dari si tua tu,” ujar seorang ibu kurus dan bercermin mata di belakangku, dengan suara ditekan menahan emosi. Sepertinya dia isteri si lelaki bertopi kulit usang.
“Lelaki perut buncit, barangkali engkau lebih jahat dari anakku,” ujar si lelaki tua.
Lelaki gendut terpancing amarahnya. Mengangkat tongkat dan menghayunkannya. Tongkat pun kelihatan berkilat di tengah matahari siang padang pasir. Refleks, tanganku bergerak cepat menahan mata tongkat yang ternyata berhujung mata belati.
“Diam, atau aku ledakkan pistol ini ke kepala tengkorakmu,” ancamku dengan tangan yang telah menuding matanya.
“Dia mengganggu. Lagi pula siapa kau?” si gendut berusaha mempertahankan nyalinya. Aku tekan hujung pistolku kuat-kuat. Tangan kiriku menggenggam kerah di lehernya hingga sukar bernafas.
“Diam, Haram jadah. Kaki lelaki di tali kematian itu lebih berharga dari wajah busukmu. Pahlawan tidak pernah mampu diterima oleh para penghuni kereta kencana semacam kalian. Bahkan tidak kalian hargai sedikit pun lelaki tua yang menangisi seorang anak yang akan mati,” bisikku geram. Perlahan tetapi menusuk gegendang telinganya.
Aku menatap si lelaki tua dan melemparkannya sebuah sapu tangan putih yang sudah kumal. Melepaskan cengkaman tangan di kerah si lelaki haram jadah dan menyingkir. Ke bukit. Barangkali dari kejauhan, pelaksanaan hukuman boleh jelas diperhatikan. Kuhargai kesucian Rumero pada waktu akhir kehidupannya.
Bisikan gaduh tetap terdengar namun tidak lama. Aku melangkah setengah berlari. Menghindar dari tatapan orang banyak yang menyaksikan suasana menjelang hukuman terhadap seorang pahlawan yang dianggap penghianat. Kurapatkan topi lusuhku. Kasut bot berjejak, menyingkirkan debu-debu pasir. Angin terus keras bertiup dan mengibarkan pakaian putihku yang menghitam keperangan.

* * *

Dari atas bukit berpasir itu aku menatapnya. Melepaskan kepergian seorang pahlawan Rumero dengan tanpa daya. Aku kenal dia. Lebih pinggir dari ratusan orang yang berkerumun menjelang acara hukuman.
Algojo itu telah muncul dari hujung jalan kota. Bersama para petugas berseragam. Dengan keangkaramurkaan yang dibawa oleh hati para penguasa. Algojo, hanya boneka para cecunguk berkerusi dan bertahta.
Suara terompet terdengar dari para badut pemerintah itu. Namun, terompet kematian dari bunyi tanduk bison atau kambing gunung pun tidak akan mampu melantunkan lagu seindah nyanyian perjalanan hidupnya. Ratusan malaikat telah menemaninya sejak awal kelahiran dan selama perjuangan.
Air mata ketakutan setiap gelandangan, pengemis dan rakyat yang ditindas telah menyongsongnya sejak berjuang. Dari balik bukit, dari bawah jambatan kota atau dari rumah-rumah gubuk, mereka menatap dengan sepenuh tatapan kasih yang bercampur ketakutan. Hujung-hujung kaki mereka menghentak bumi, geram pada penguasa, walau perasaan takut tidak mungkin disembunyikan.
Di tengah hamparan pasir tidak berhujung itu, terdengar juga suara derap kaki petugas. Membacakan sebuah keputusan melalui sekeping surat yang dibawa dari kota. Gulungan berisi ayat-ayat penindasan titah dari penguasa zalim. Tanganku menggenggam pistol tradisional yang tersembunyi di pinggang. Kasut botku keras mencancang pasir.
Kain merah berkibar bersama rambutku yang panjang.
Penghormatan terakhir buat kawan seperjuangan, Rumero. Lelaki tua yang bagai titik hitam di hadapan acara kerumunan itu berputar ke belakang. Seakan tidak mahu menyaksikan suasana menyedihkan yang akan terjadi. Algojo telah melangkah. Surat yang telah dibaca dilipat begitu saja. Walau hanya sekilas mendengar cerita si tua itu, tidak pernah kubayangkan Rumero punya seorang ayah.
“Rumero tidak berayah dan beribu. Dia pahlawan buat kaumnya, para makhluk yang selalu menimang air mata,” bisikku.
Dia sudah didapati berjuang sejak kecil. Dia sudah tua sewaktu aku jadi remaja dan ikut dalam perjuangan ini bersamanya. Bagiku dia bapa. Sama dashyat dengan ayah dan ibuku yang mati dibunuh oleh para penguasa zalim di kota sana.
Aku menangis. Sebuah kecengengan yang aku tidak mampu tahan demi sebuah penghormatan kepada seorang rakan yang berjuang. Tanganku merogoh kantung yang tergantung di pinggang. Sehelai surat dari Rumero, sewaktu dia pergi. Sebulan menjelang kematian yang mengerikan: hukuman.

Buat Dermandez,

Saudaraku di dalam perjuangan suci, aku memang menginginkan engkau membacakan surat ini sewaktu engkau mendapati aku telah pergi dengan nyawaku. Tidak ada yang lebih diinginkan oleh orang yang berada di hadapan garis hadapan perjuangan, kecuali meninggalkan pesan melalui surat buat seorang yang tinggal.
Aku tidak punya kekasih, Mandes: kecuali Tuhan. Demikianlah, aku percaya engkau akan membacakan surat ini. Surat yang diberikan oleh seorang pejuang kepada pejuang muda yang aku yakin akan meneruskan suara hati nurani ini. Aku terlalu tua, Mandes. Terlalu lemah dan tidak lagi sigap juga cekatan dalam berjuang.
Di daerah Rumeira, aku lahir dan dibesarkan oleh kemanjaan. Waktu kemudian membawaku pada sebuah pilihan. Meninggalkan ayah yang terus menangisi ibu yang jadi korban perkosaan penguasa busuk yang memberikanku seribu dendam. Ibuku yang bunuh diri demi keinginannya untuk mempertahankan sebuah kesucian.
Surat ini kutitipkan melalui kurir muda yang aku percaya, Mandes. Kurir yang kuharapkan engkau pun akan memberinya ilmu perjuangan kelak. Memberikanya nurani untuk membela orang yang lemah. Tuhan bersama kita, Mandes. Kerana itu juga, aku mengharapkan engkau datang walau hanya untuk satu tujuan yang sekejap. Melepasku dengan doa dan salam perjuangan. Engkau selalu bersama Tuhanmu dan tangisan rakyat yang menjadi peluru bagi perjuangan kita.

Rumero.

Tulisan yang tidak teratur di atas kertas yang lusuh oleh debu. Tidak mampu lagi kubayangkan suasana sewaktu Rumero menulis dalam rasa ketakutan dan kecemasan.
Ah, barangkali juga dia tenang menulis di balik jerujinya. Hanya tangannya pasti kotor sewaktu menulis, kertas hitam bukan kerana keringat tetapi kerana sisa tanah sewaktu dia menjalani kerja paksa di bawah tanah untuk para tahanan politik yang ditangkap oleh rejim secara sivil.
Gereja dari katedral membunyikan loceng dalam gendang telingaku. Bertalu ditimpa alunan beduk yang membuat lafaz kesucian bagi si pahlawan kaum tertindas. Dari kepal, dari pura, terus bertubi bergema di telingaku.
Rumero seakan berjalan menuju ke arahku. Bersamaan dengan tiupan terompet yang semakin nyaring dan langkah algojo yang telah ada di hadapannya dan menghayunkan pedang tajam ke tali yang membuatnya melesak ke bawah lantai penyiksaan. Tali menggantung, dia sekarat namun tidak banyak memberikan gerak. Pasrah dalam perjalanan menuju keabadian.
Suasana hukuman teramat singkat dan cepat usai. Orang ramai yang berkerumun hanya beberapa detik terpana, untuk kemudian berkomentar dan menggerutu dengan pendapat masing-masing. Berjalan pergi, melangkah dengan kasut tebal, tandu, gerobak berkuda atau kereta kecil yang diseret seorang budak. Inilah tontonan para bangsawan.
Kematian bukan sebuah perenungan. Satu per satu pergi, mengiringi para petugas yang mewakili penguasa kota di daerah Rumeira. Satu per satu mata-mata yang memandang kejauhan dari balik bukit atau dari tenda persembunyian bergerak ke arah si pahlawan yang sudah tanpa nyawa. Dari bukit, dari kerumunan di hadapan mayat Rumero, hanya seorang yang kulihat tersisa dari ratusan kerumunan yang pulang ke kota. Si lelaki tua yang sejak tadi menangis di dalam barisan.
Lelaki tua itu maju menghampiri mayat sahabatku Rumero. Diikuti para pengemis jalanan dan gelandangan yang bermukim di sekitar kota. Tanpa sedar, di antara angin dan debu, kakiku juga melangkah turun dari bukit.

* * *

Samar-samar, kudengar suaranya sewaktu perlahan melangkah menuruni bukit pasir. Kaki yang berjejak menyeret mayat yang kelihatan dari atas bagai seekor semut, tertatih. Ada rombongan pengemis dan jembel mengikutinya. Berjalan dengan tertatih dan bercampur takut. Angin menerbangkan pakaianku yang besar dan koyak-moyak.
Masih kelihatan matanya yang putih bergerak dengan wajah pias ketakutan pada orang ramai yang mengiringinya. Dia ketakutan. Tetapi tangannya tetap mencekal kuat mayat Rumero. Langkahnya tua namun pasti dan tegap.
“Dia anakku,” suaranya melemah, getir meninggalkan kerumunan dengan ribuan keberanian. Semakin pinggir dengan langkahan kakiku yang berjejak. Dia menatapku dan para jembel yang berdatangan, dengan menyiratkan wajah yang ketakutan.
“Dia anakku. Anakku, Tuhan!” dia terus menceracau seakan meyakinkan perasaannya sendiri dengan jeritan.
Luka yang berusaha dibungkus dengan ketegaran. Diseretinya mayat Rumero dengan tangan yang lemah namun menyisakan otot semasa muda. Keringat membasahi seluruh bajunya yang koyak. Tanpa alas kaki, dia meninggalkan jejak kaki Rumero pada pasir panas terpanggang matahari siang.
“Dia anakku,” katanya, masih memohon dan menatapku seakan minta pengertian.
Aku memanggul salah satu pergelangan tangannya. Juga merangkul tubuh mayat.
“Saya percaya, bapa! Dia anak dan kawan kepada semua dari kita,” ujarku.
Pasir masih panas, membakar dan memanggang kakiku. Kaki si bapa. Dan kaki puluhan, bahkan ratusan pengiring yang memberanikan diri keluar dari persembunyian. Ke arah bukit yang kelihatan remang di mata.
“Dia disayangi Tuhan, dia anakku!”
“Tuhan pasti sayang dia, bapa. Tuhan sayang dia,” ujar jembel di sebelahku. Aku mengangguk, mengiyakan. Memberi kesempatan para jembel yang menyertai untuk ikut memanggul tubuh si pahlawan.
Rombongan orang bagai semut, membawa mayat. Di tengah matahari yang masih memanggang.
Terlalu banyak cerita pada masa hadapan yang belum terjawab. Boleh jadi kami pun akan digantung nanti. Boleh jadi mayat si bapa atau mayatku atau mayat yang lain juga akan terseret seperti ini. Atau lebih parah, dimakan daging dan bola matanya oleh burung nazar sebagaimana mayat-mayat para pejuang tidak dikenal yang pernah kami lihat sebelumnya di setiap daerah para penguasa zalim.
Pada masa hadapan, barangkali masih ada pembunuhan yang juga akan dilakukan secara diam-diam. Terhadap manusia. Terhadap para pahlawan yang dianggap seperti haram jadah kerana menjerit tentang kebenaran dan Tuhan.
“Sebentar lagi kita tiba di bukit itu, bapa. Di antara pohon-pohon pinus kering, jenazah pahlawan kita baringkan,” ujar seorang jembel dengan tatapan hormat. Si bapa mengangguk. Aku juga mengangguk.
Sebentar lagi badai berpasir, kami harus cepat menimbun mayat dalam-dalam sebelum badai dan burung nazar tahu bahawa di tempat ini baru saja ada kematian.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

ASMAUL HUSNA