Khamis, 17 Oktober 2013

Wangi Harum Masyithah


SMAHADZIR

DIRIWAYATKAN dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah s.a.w. bersabda,” Pada saat malam terjadinya Isra’ saya mencium bau harum, saya pun bertanya, “Ya Jibril, bau harum apakah ini?” 

Jibril menjawab, ”Ini adalah bau wangi wanita penyisir rambut puteri Firaun (Masyithah) dan anak-anaknya,”

Saya bertanya, “Bagaimana boleh demikian?” 

Jibril bercerita, “Ketika dia menyisir rambut puteri Firaun suatu hari, tiba-tiba sisirnya terjatuh. Dia mengambilnya dengan membaca “Bismillah (dengan nama Allah s.w.t.),”

Puteri Firaun berkata, “Hai, dengan nama bapaku?”

Masyithah berkata, “Bukan, Allah s.w.t. adalah Tuhanku dan Tuhanmu begitu juga Tuhan bapamu,”

Puteri Firaun bertanya, “Kalau begitu, kamu punya Tuhan selain ayahku?”

Wanita tukang sisir itu menjawab, “Ya,”

Puteri Firaun berkata, “Akan aku laporkan pada ayahku.”

Wanita tukang sisir menjawab, “Silakan!”

Puteri Firaun kemudian melaporkan kepada bapanya, dan Firaun pun kemudian memanggil Masyithah. Firaun bertanya, “Ya Masyithah, apakah kamu mempunyai Tuhan selain aku?”

Masyithah menjawab, “Ya, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah s.w.t,”

Kemudian Firaun memerintahkan untuk mempersiapkan periuk besar dari tembaga untuk dipanaskan. Satu persatu anak wanita tukang sisir itu kemudian dilemparkan ke dalam periuk yang mendidih.

Beberapa saat kemudian, Masyithah berkata kepada Firaun, “Aku mempunyai satu permohonan,”

Firaun menjawab, “Katakanlah,”

Masyithah berkata, “Aku ingin engkau mengumpulkan tulang-tulangku dan tulang-tulang anakku dalam satu kain atau kantong untuk kemudian dikuburkan,”

Firaun menjawab, “Akan aku penuhi permintaanmu,”

Lalu satu demi satu anaknya dilemparkan ke dalam periuk mendidih itu di depan matanya, sampai akhirnya tinggal seorang bayi yang masih menyusu. Pada saat itu wanita tukang sisir nampak ragu-ragu.

Si bayi di atas gendongan Masyithah, atas izin Allah s.w.t. tiba-tiba berbicara, “Terjunlah ibu! Ayuh terjunlah, azab dunia lebih ringan daripada azab akhirat,” Mendengar anaknya berbicara si ibu pun terus terjun bersama bayinya.

Demikianlah sebuah kisah yang tercantum dalam Musnad Imam Ahmad, 4 atau 291-295 dan juga tercantum dalam Majma’uz Zawa’id, 1 atau 65. Anisul Jalabi II, Ali Al-Hazza’. Kisah dari seorang wanita bernama Mashithah yang menjadi penerang kegelapan istana Firaun. Dia mempertahankan kebenaran, meskipun berat dan pahit terasa. Lalu siapakah pembawa obor bagi kita di kegelapan abad dua puluh satu ini?

Pelajaran yang dapat dipetik:

1.     Anjuran untuk tetap sabar dan teguh ketika muncul fitnah.
2.     Balasan itu sesuai dengan jenis amal yang dikerjakan.
3.     Bagi yang bersabar dalam memegang teguh agama dan tidak takut dicela orang nescaya memperoleh pahala dan ganjaran yang sangat besar, sebagaimana firman Allah s.w.t. dalam QS: Az-Zumar: 10,
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala tanpa batas,” 
4.     Seorang muslim dibolehkan mengajukan permintaan yang mengandungi kebaikan sekalipun kepada thaghut, sebagaimana kisah ini. Wanita tukang sisir anak gadis Firaun meminta agar tulang tubuhnya dan anak-anaknya dikubur menjadi satu.
5.     Sesungguhnya Allah Ta’ala senantiasa memberi jalan keluar untuk para wali-Nya dari musibah atau bencana yang menimpa.
6.     Ketetapan karamah Allah s.w.t. yang diberikan bagi orang soleh dan solehah.

7.     Karamah termasuk dalam kategori peristiwa langka dan luar biasa. 

Tiada ulasan:

Catat Ulasan

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

ASMAUL HUSNA